"Saya jadi takut api dan sinar terang," kata Khatijah (39) di bekas lokasi kebakaran RT 16/2, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (8/10/2009).
Keresahan Khatijah dirasakan yang lain. Maemun (36), misalkan. Sejak kehilangan rumah dan juga toko kecilnya, ia menjadi berkeringat dingin di tengah keramaian. Keramaian tersebut mengingatkan kondisi panik saat kebakaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebakaran hebat yang menghanguskan 1200 rumah masih membekas. Jajaran rumah petak, kontrakan, dan bedeng sudah ludes. Termasuk fasilitas umum seperti tempat peribadatan, toilet , dan balai pertemuan warga.
"Sekarang masih mengumpulkan material bangunan untuk membangun lagi," katanya.
Selain puing reruntuhan, tenda kemanusiaan masih tegar berdiri. Mereka yang berasal dari berbagai organisasi sosial dan relawan mencoba membangun keyakinan warga kembali. Sejumlah bantuan material bangunan, baju, dapur umum, perkakas rumah tangga dan air bersih digelontorkan setiap hari.
"Kami hanya membangun kepercayaan hidup lagi. Karena banyak warga yang stres, semua kembali ke nol. Termasuk ke anak-anak yang harus memperoleh standar hidup layak," ujar Vivie (26) salah satu relawan dari organisasi kemanusiaan.
Traumatik berkepanjangan itu akan menumpuk seiring masih tinggi angka kebakaran di Jakarta. Sayangnya, instansi yang bersinggungan langsung mengerem tren kebakaran seperti razia listrik dan penataan pemukiman belum berbuah banyak.
(Ari/ken)











































