Pemungutan Suara Ricuh Gara-gara Mandat dan Pulpen Berkamera

Pemilihan Ketum Golkar

Pemungutan Suara Ricuh Gara-gara Mandat dan Pulpen Berkamera

- detikNews
Kamis, 08 Okt 2009 00:23 WIB
Pemungutan Suara Ricuh Gara-gara Mandat dan Pulpen Berkamera
Jakarta - Kericuhan demi kericuhan terjadi dalam sidang pemilihan Ketum Golkar. Setelah sebelumnya sidang sempat ricuh gara-gara persoalan hak suara, kini sidang ricuh karena persoalan mandat dan pulpen berkamera.

Sidang yang dipimping Fadel Muhammad di Hotel Labersa, Pekanbaru, Rabu (7/10/2009) malam itu telah sampai pada proses pemberian dukungan yang dilakukan secara tertutup di atas panggung. Proses pemberian dukungan itu dimulai dari DPD II daerah barat, mulai dari Aceh dan seterusnya.

Saat sampai pada DPD kabupaten Langkat, masalah timbul. Rupanya ada dualisme surat mandate yang dimiliki DPD tersebut. Masing-masing pihak ngotot bahwa merekalah yang berhak memberikan suara. Karena persoalan ini, sidang terhenti sementara. Panitia dan perwakilan dari Langkat tampak berkumpul mendiskusikan masalah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat persoalan ini belum selesai, muncul masalah lain. Ketua sidang Fadel Muhammad menemukan seorang peserta yang memberikan suaranya dengan membawa pulpen bekamera. Padahal sebelumnya sudah diberitahukan bahwa HP dan pulpen sendiri tidak boleh dibawa ke bilik suara.

“Saya menemukan ada yang membawa pulpen berkamera. Ini tidak boleh. Bagaimana ini, sah atau tidak?” kata Fadel kepada hadirin. Reaksi langsung muncul dari peserta. Sebagian ada yang berteriak ‘tidak sah.'

Namun hal ini memicu keributan. Ditambah keributan yang diakibatkan DPD Langkat, suasana menjadi makin kacau. Sebagian peserta tampak berdiri dan berteriak-teriak.

Setelah berlangsung kurang lebih 15 menit, suasana tak kunjung mereda. Saat panitia hendak mencoba mengabaikan kericuhan itu dengan melanjutkan proses pemberian dukungan, kekacauan baru timbul. Rupanya karena ribut-ribut tadi panitia lupa DPD mana saja yang telah memberikan dukungannya.

“Saya minta kejujurannya. Binjai dan Nias Selatan sudah belum?” kata salah seorang panitia.

Kontan pertanyaan tersebut menambah keruh suasana. Sebab satu suara begitu berharga, bagaimana mungkin panitia hanya mengandalkan kejujuran untuk memastikan tidak ada pemberi dukungan ganda? Suasana pun makin panas.

Akhirnya pimpinan sidang mengusulkan agar pemberian dukungan diulang dari awal. Namun usulan itu  tidak membawa solusi. Peserta tetap ribut. Akhirnya sidang diskors selama 5 menit.


(sho/mad)


Berita Terkait