Kondisi ini terjadi saat sidang penetapan bakal calon dan pemilihan ketua umum akan dimulai. Ribuan peserta sidang yang hendak memasuki ruangan harus antre dan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat untuk mengikuti sidang. Karena begitu berjubelnya peserta, suasana memanas dan beberapa orang terpancing emosi.
"Kita harus menunjukkan KTP!" gerutu salah seorang peserta Munas kepada peserta lain di Hotel Labersa, Pekanbaru, Riau, Rabu (7/10/2009) pukul 20.30 WIB.
Khusus untuk sidang ini, panitia sengaja membagi pintu masuk peserta menjadi 3 jalur. Jalur pertama untuk peserta yang berasal dari Jawa dan Sumatera. Jalur kedua untuk pengurus DPP, panitia, Dewan Penasihat, kandidat ketum, peninjau, dan tamu undangan. Jalur ketiga untuk peserta yang berasal dari luar Jawa dan Sumatera. Kerumunan paling banyak terlihat di depan pintu jalur Sumatera dan Jawa.
Karena tak kunjung bisa memasuki ruang sidang, para peserta mulai kehilangan kesabaran. Sebagian dari mereka berteriak-teriak. "Woi, buka woi!" seru beberapa peserta seraya menunjukkan ID-nya.
Peserta lain pun menimpali "Panitiane ruwet iki (Panitianya ruwet ini)," timpal salah seorang peserta perempuan.
"Panas nih, ini penyiksaan namanya!" ucap peserta lainnya.
Meski peserta bersedia menunjukkan KTP-nya, namun raut wajah mereka tampak keberatan. Salah seorang peserta menyeletuk agak sinis.
"Harus menunjukkan kartu nikah juga nggak?" komentarnya saat panitia menyodorkan daftar peserta untuk ditandatangani.
Untungkah kondisi panas ini tidak berlangsung lama. Sedikit demi sedikit peserta mulai memasuki ruangan. Dan akhirnya situasi mulai tenang kembali.
(nvc/nrl)











































