Batik dan Wayang Kulit Sedot Perhatian Besar di Latvia

Laporan dari Riga

Batik dan Wayang Kulit Sedot Perhatian Besar di Latvia

- detikNews
Rabu, 07 Okt 2009 16:20 WIB
Batik dan Wayang Kulit Sedot Perhatian Besar di Latvia
Riga - Di ibukota kebudayaan Eropa, Riga, malam kebudayaan Indonesia dirangkai dengan resepsi diplomatik mendapat perhatian besar. Dubes negara-negara berpengaruh seperti AS dan Inggris hadir. Publik mengantre sampai dua gelombang.

Berlangsung di venue prestisius Museum of Foreign Arts, satu bangunan berimpitan dengan Istana Presiden Republik Latvia, (5/10/2009), malam kebudayaan Indonesia tersebut menampilkan Tari Topeng, Tari Anoman, Gamelan, Pagelaran Wayang Kulit dalam bahasa Inggris, pengenalan kuliner dan keramahtamahan Indonesia serta pameran batik Sleman, Yogyakarta.

"Item tersebut terakhir itu sebagai bagian dari hari batik dan pelaksanaan kampanye batik nasional sebagai salah satu produk budaya dan identitas bangsa," terang Dubes Linggawaty Hakim melalui Sekretaris I Pensosbud KBRI Stockholm Dody Kusumonegoro kepada detikcom, Selasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Riga kebetulan (15/9/2009) baru ditetapkan oleh panel internasional sebagai European Capital of Culture 2014 dan Indonesia saat ini sedang hot di Negeri Baltik itu sejak setahun terakhir. Diharapkan semua faktor ini akan memberi efek positif, apalagi acara tersebut diliput televisi nasional Latvia dan Rusia, juga media cetak setempat.

"Minat warga Latvia terhadap Indonesia sangat tinggi, apalagi mereka juga sangat meminati travel," jelas Lingga.

Selain Dubes AS Judith G. Garber dan Dubes Inggris Richard Moon, dubes dari 40 negara-negara sahabat lainnya yang diundang juga hadir, antara lain dubes Italia, Belanda, Portugal. Selebihnya dari 150 tamu berasal dari counter part setempat, yakni Kemlu dan pejabat pemerintah setempat, kalangan bisnis, travel dan civil society.

Dubes Belanda di Riga, Jurriaan Kraak (lahir di Jakarta, 24/8/1951) mengaku selalu merasa at home berada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Kraak memuji budaya ramah serta kekayaan ragam dan kelezatan makanan Indonesia. Secara khusus dia bahkan mengaitkan kelezatan makanan malam itu dengan restauran De Poentjak, Den Haag.

Pada sesi untuk publik, auditorium Museum of Foreign Arts tak mampu menampung masyarakat sehingga pihak manajemen museum menerapkan sistem dua gelombang. Sebagian dipersilakan masuk, sebagiannya lagi menunggu di luar.

Akibatnya, tim kesenian yang dibawa KBRI Stockholm pun harus tampil dua putaran. Mereka adalah pemain gamelan bule warga Swedia, mahasiswa, staf KBRI dan profesional yang bekerja di Swedia, pensiunan, eks Mahid dan dalang bule Finlandia yang menikah dengan wanita Indonesia.

Para tamu disambut Dubes Linggawaty Hakim dengan iringan Gendhing Kebo Giro, suguhan aneka kuliner Nusantara, dari salad karedok sampai batagor Bandung, dengan sajian minuman sangat beragam, termasuk es teler dan jus buah sirsak yang sudah langka.

(es/es)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads