“Kami mendengar dari sumber yang dapat dipercaya, dari pada pendukung saya DPD-DPD, saat ini semakin kencang untuk calon tertentu menggelontorkan gizi yang lebih besar. Saya tidak tahu siapa yang memulai. Ini seperti tender. Ada yang 100 yang lain 110, dan seterusnya,” kata Yuddy dalam konferensi pers di Hotel Labersa, Pekanbaru, Riau, Selasa (6/10/2009).
Menurut Yuddy, dugaan praktek money politics ini sangat merusak idealisme dan semangat perjuangan Golkar. Karena itu, Yuddy berharap para pimpinan DPD tetap tegar dengan godaan tersebut dan memegang teguh idealisme perjuangan.
“Ini kondisi yang paling menyedihkan dari perjalanan Golkar. Kami berharap DPD-DPD itu tidak tergoda. Kalau saya tidak akan menyerah. Siapa tahu dengan doa teman-teman, malaikat turun ke bilik-bilik suara,” imbuh Yuddy.
Saat ditanya berapa nominal pasti dugaan money politics yang digelontorkan para calon kepada para DPD, dengan tegas Yuddy menjawab tidak tahu pasti. Tetapi, Yuddy memastikan bahwa informasi soal money politics didapat dari sumber terpercaya.
Saat didesak wartawan dengan menyebut angka, Yuddy pun mengiyakan karena menurutnya hal-hal seperti ini sangat sulit dibuktikan.
“Saya tidak mau menyebut angka pastinya karena saya tidak tahu persis,” kata Yuddy.
“Rp 500 juta-1 miliar?” tanya wartawan.
Yuddy menjawab singkat. “Nah itu ada yang tahu. Mudah-mudahan itu hanya isu, karena yang saya dengar begitu,” ungkapnya.
Informasi yang beredar di kalangan wartawan, saat ini muncul isu bahwa harga 1 DPD II sebesar RP 500 juta. Sementara untuk DPD I mencapai Rp 1 miliar.
Rumor ini belum terkonfirmasi pada masing-masing kandidat kecuali Yuddy yang mengaku sama sekali tidak akan melakukan hal itu karena tidak memiliki uang dan tidak sesuai dengan idealisme perjuangannya. (yid/did)











































