Penemuan mayat Unan ini disambut duka mendalam oleh putrinya, Refli (27). Ibu dua anak ini terlihat langsung lunglai saat jenazah sang ayah yang sudah membusuk dikeluarkan petugas dari timbunan tanah dan bangunan rumahnya.
Saking sedihnya, Refli tak sanggup lagi untuk menangis. Tidak ada tetesan air mata yang keluar dari kedua matanya. Sudah lima hari ini Refli selalu setia menunggu para petugas menemukan jenazah pria yang sangat disayanginya itu.
Jenazah Unan kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik. Petugas kemudian membawanya ke Posko Kesehatan Polda Sumatera Selatan sejauh 2 kilomter dari lokasi penemuan jenazah.
Sesampainya di Posko Kesehatan, Refli meminta kepada petugas untuk memeriksa pakaian yang dikenakan korban saat meninggal. Dia menduga ayahnya mengantongi sejumlah yang. Menurut Refli, saat gempa terjadi, ayahnya baru pulang dari pasar usai menjual kerbau.
"Saya yakin uang hasil penjualan kerbaunya masih ada di kantong celananya," kata Refli.
Dugaan Refli ternyata benar. Saat tim medis merobek kantong celana kiri terdapat uang pecahan Rp 50 ribuan senilai Rp 3 juta. Demikian pula saat membuka kantong celana sebelah kanan yang digunakan korban, petugas kembali menemukan uang pecahan Rp 100 ribuan dalam jumlah yang cukup banyak.
"Saya nggak tau pasti berapa jumlah uang pecahan seratus ribu ini. Saya belum sempat menghitungnya. Nanti saja kalau sudah selesai pemakaman baru saya hitung," kata Refli dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (6/10/2009). Sebelumnya dia menduga, uang yang dikantongi ayahnya tak kurang dari Rp 12 juta.
Unan adalah salah satu dari 46 jasad korban yang berhasil ditemukan di reruntuhan Nagari Tandikek. Ada tiga desa di sana yang berada di lereng pegunungan yang tertimbun longsor. Diyakini masih ada 300-an orang lagi yang belum diketemukan. Pemerintah setempat berencana menjadikan kawasan desa yang lenyap akibat gempa itu menjadi kuburan massal.
(cha/djo)
