"Kita bukan koalisi tapi juga bukan oposisi. Tetapi kita harus bersikap mendukung kebijakan pemerintah kalau itu baik. Kalau tidak ya kita mengkritisi," ujar Tommy dalam wawancara dengan detikcom di Hotel Labersa, Pekanbaru, Riau, Senin malam (5/10/2009).
Tommy mengaku ikut berebut kursi G1 karena prihatin pada hasil Pemilu 2009 yang memporakporandakan Golkar. Sebagai putra tokoh Golkar yang pernah merasakan kejayaan partai ini saat masih bernama Golkar (tanpa partai), Tommy menilai ada yang salah dalam pengurusan partai. Paradigma baru partai yang digembor-gemborkan sejak era reformasi justru gagal membawa kebaikan bagi partai, tetapi justru Tommy partai kian terpuruk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tommy mengaku terpanggil untuk membenahi partai yang dulu pernah dipimpin mendiang ayahnya ini. Tommy melihat pengurus partai saat ini telah gagal mengurus partai. Bukti paling nyata adalah kegagalan para tokoh Golkar untuk memenangkan partai dalam pemilu nasional. Tak hanya kegagalan itu, bahkan yang paling memalukan karena mereka pun gagal memenangkan Golkar di daerah kelahiran mereka sendiri.
"Di daerah kelahiran mereka saja tidak bisa memenangkan partai, apalagi harus memenangkan pemilu secara nasional," kritik Tommy.
"Ini yang mendasari saya maju," imbuhnya.
(Rez/nrl)










































