Pria kelahiran Sanggau, Kalimantan Barat, 29 Juli 1943 itu bukan nama baru di lingkungan KPK. Pensiuan jaksa itu pernah menjabat sebagai Wakil Ketua KPK pada periode pertama bersama Taufiequrachman Ruki, Sjahruddin Rasul, dan Erry Riyana Hardjapemekas serta Amin Sunaryadi.
Selama menjabat sebagai salah satu pimpinan KPK, lulusan Universitas Tanjungpura Pontianak dikenal blak-blakan. Semua kasus yang ditangani lembaga antikorupsi itu dijelaskannya dengan gamblang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tumpak juga disebut-sebut sangat ditakuti oleh koruptor Indonesia. Karena sikapnya tak seperti tak kenal kompromi, Tumpak bahkan juga dijuluki sebagai 'buldoser para koruptor'.
Suami Roosvi Sertiana Sianturi itu juga dikenal sebagai seorang pekerja keras yang nyaris workaholic. Sejak berkarir sebagai jaksa selama 30 tahun, Tumpak hampir selalu pulang malam. Bahkan setelah pensiun dan bertugas di KPK, Tumpak tidak akan pulang sebelum semua pekerjaanya rampung.
Selama menjadi jaksa, Tumpak telah berkelana di beberapa daerah. Misalnyanya saja saat menjadi Kajari Pangkalan Bun (1991-1993), Kajari Dili (1994-1995), Kajati Maluku (1999-2000), dan Kajati Sulawesi Selatan (2000-2001).
Pada 2003, Tumpak direkomendasikan mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh untuk bertugas di KPK. Nama Tumpak pun akhirnya terpilih menjadi salah satu pimpinan setelah voting di DPR. (ken/nrl)











































