yang terjadi dalam munas -munas partai, perang strategi informasi antara
tim kandidat ketua umum juga berlangsung seru.
Wakil bendahara DPP Partai Golkar Poempida Hidayatullah mengungkapkan bahwa saat ini alat komunikasi para peserta tidak mudah dihubungi lagi. Hal ini kemungkinan karena adanya penyadapan atau bahkan blocking oleh para tim dari kandidat ketua umum yang akan bertarung.
"Sekarang tidak hanya main opini media, tetapi sudah pakai teknologi informasi juga. Sudah main HP juga. Saya yakin sudah ada yang main sadap-sadapan, atau bahkan diblok HP-nya ," kata Poempida kepada wartawan di areal Munas, Hotel Labersa, Riau, Senin (5/10/2009).
Menurut salah satu panitia Munas ini, beberapa kali dirinya mencoba menghubungi para peserta Munas untuk berkoordinasi, namun gagal terhubung. Kemungkinan hal ini disebabkan komunikasi HP yang sudah tidak steril.
"Jadi yang dimainkan sekarang ternyata tidak hanya logistik, tetapi juga IT, teknologi menyadap dan mengacap HP mungkin juga dimanfaatkan. Saya sudah gagal menghubungi perserta dari DPD-DPD itu mas," paparnya.
Menantu Fahmi Idris ini menilai Munas Golkar kali ini yang paling dinamis dan kompleks. Jika pada sebelumnya permainan media dan IT tidak begitu kental, saat ini lebih kentara dan nampak.
"Sekarang ini sungguh sangat luar biasa permainanya," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, menjelang pembukaan Munas Golkar, pengamanan di areal Hotel Labersa, Pekanbaru, Riau diperketat. Bahkan beberapa ponsel di
lokasi Munas itu tidak bisa digunakan karena dilakukan pengacakan sinyal.
Beberapa pengurus dan peserta Munas banyak yang mengeluhkan pengacakan sinyal ini. "Ada yang mau nakal sampai ada yang di-jaming. Kita jadi susah berkomunikasi," ujar salah satu pengurus Golkar yang tidak mau disebut namanya.
Salah seorang Paspampres menyebut, proses pengacakan sinyal merupakan
proses standar kepala negara. Hal itu akan dilakukan setelah ada kepala negara dan areanya terbatas.
"Ya itu standar. Tapi kan ada aturannya, tidak semuanya," ujar Paspampres
itu.
Salah seorang fungsionaris Partai Golkar menduga, proses pengacakan sinyal dimaksudkan untuk mengontrol pergerakan komunikasi antarpeserta yang sudah mendukung calon tertentu. Hal itu untuk menjaga agar peserta yang sudah
memberi dukungan, tidak melarikan dukungannya ke calon lain.
"Ternyata sudah begini mainnya," kata fungsionaris itu tanpa mau disebut namanya.
(yid/lrn)











































