Pesawat Garuda Indonesia Airbus 330-300 bernomor registasi PK-GPE itu baru saja mendarat pada Kamis 1 Oktober kemarin pukul 10.30 WIB membawa rombongan Presiden SBY lawatan dari luar negeri selama sepekan, dari AS hingga Jepang.
Pesawat itu pula yang dipakai SBY dan rombongan terbang ke gempa di Sumbar setelah rapat koordinasi dengan beberapa menteri. Kru pesawat pun masih sama saat pesawat itu terbang dari Nagoya, Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menu pilihannya, mie instan dalam gelas styrofoam, atau paket nasi dari salah satu franchise ayam goreng ternama di dunia. Berkali-kali pramugari meminta maaf dan memberikan pengertian kepada para penumpang.
"Maaf ya adanya cuma Pop Mie," ujar salah seorang pramugari.
Selain karena keadaan darurat, "Tadi soalnya diberitahu yang ikut sekitar 80-an orang. Ternyata sampai 140-an," imbuh dia.
Dengan formasi normal, pesawat itu seharusnya bisa mengangkut 293 penumpang. Namun dengan formasi pesawat Kepresidenan yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, penumpangnya maksimal 140-an orang.
"Rombongan ikut pesawat ini karena tak sempat menyiapkan pesawat yang lebih kecil," kata juru bicara Kepresidenan Andi Malarangeng di atas pesawat sebelum lepas landas di Bandara Halim ke Bandara Internasional Minangkabau, Padang.
Bahkan, Andi menambahkan pesawat ini setelah mendrop rombongan Presiden, akan digunakan penumpang umum.
"Banyak yang orang butuh pesawat dari Padang," imbuh pria berkumis ini.
Saat pesawat telah mendarat pun, pramugari memberitahukan bahwa fasilitas kamar mandi tidak berfungsi di Bandara Minangkabau.
"Kami beritahukan kepada para penumpang bahwa di Bandara Internasional Minangkabau tidak ada fasilitas sanitary," kata pramugari memberitahukan melalui speaker.
Jadi, kalau ada yang ingin 'membuang hajat', ya dipersilakan di atas pesawat saja.
Saat tiba pun, beberapa wartawan mencoba sinyal HP-nya. Tak ada sinyal kecuali dari HP yang memakai SIM card dari 2 operator selular tertentu. Beberapa ada yang memburu kartu perdana operator selular itu.
Ada yang mendapatkan dengan harga murah, Rp 2 ribu karena berburu di dekat rumah dinas gubernur di Jl Jend Sudirman. Ada pula yang mendapatkan dengan harga mahal.
"Tadi gw beli banyak. Mahal nih, diserbu sama orang-orang Padang. Nggak usah disebutin deh harganya," kata rekan media dari salah satu TV swasta.
Selain panic buying untuk kartu operator selular, suasana panic buying itu sangat terasa di Kota Padang di SPBU Pertamina. Antrean panjang bahkan hingga 1 kilo pun terjadi.
"Antrean itu terjadi karena listrik mati, sistem elektrik pom tak berfungsi dan ikut mati," ujar Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Kawedar di rumah dinas gubernur Kamis kemarin.
Bahkan rekan wartawan di Padang mengaku sampai membeli bensin eceran dengan harga Rp 30 ribu per liter.
Selain membuat Kota Padang gulita menjelang malam, listrik yang mati pun berpengaruh pada ATM. Jadi jika punya uang plastik itu, lupakan saja sementara. Bawa uang tunai yang banyak saja untuk beli ini-itu.
(nwk/anw)










































