RI-Belanda Kini Dewasa Menatap Sejarah

Laporan dari Den Haag

RI-Belanda Kini Dewasa Menatap Sejarah

- detikNews
Kamis, 01 Okt 2009 22:49 WIB
RI-Belanda Kini Dewasa Menatap Sejarah
Den Haag - Seminar mengenai Konferensi Linggarjati tidak untuk menuding siapa salah atau mengecam. Kini kedua negara sudah mencapai saling pengertian sejarah dengan dewasa dan saling menghormati.

Hal itu disampaikan Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Deplu Andri Hadi dalam sambutan pada seminar dan pameran mengenai Konferensi Linggarjati bertema A Bridge to the Future of Bilateral Relations between Indonesia and the Netherlands di Koninklijke Bibliotheek (Perpustakaan Nasional), Den Haag, 28/9/2009.

Andri Hadi menggugah agar semangat perdamaian dan kerjasama yang berkembang dari Konferensi Linggarjati dapat memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Biarlah perbedaan di masa lalu menjadi kekuatan kita untuk mengangkat semangat kerjasama dan mengembangkan hubungan bilateral dengan tulus, yang akan terus berlangsung di masa-masa mendatang," ujar Hadi.

Seminar dan pameran di Den Haag tentang bagian sensitif dari sejarah kedua negara ini dinilai merupakan terobosan dalam babak baru hubungan kedua negara. Apalagi penyelenggaranya adalah institusi pemerintah, dalam hal ini KBRI Den Haag bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri RI c.q. Ditjen IDP, melibatkan Arsip Nasional RI (ANRI), serta sejumlah instansi dan LSM Belanda.

Di masa lalu, sejarah Indonesia-Belanda yang pernah diwarnai konflik dirasa sebagai beban. Beberapa isu selalu dihantui sejarah kedua pihak dan hampir selalu berujung pada ketegangan hubungan bilateral.

Diplomasi

Terkait Konferensi Linggarjati (1946), Andri Hadi menegaskan betapa penting perjuangan diplomasi, sehingga secara de facto kedaulatan negara Indonesia diakui secara internasional.

Dikatakan bahwa sesungguhnya setelah proklamasi, tiga pilar Soekarno-Hatta-Sjahrir, selalu berusaha mencari pengakuan kemerdekaan dengan mengedepankan negosiasi serta diplomasi damai dan menghindari benturan secara militer.

"Mereka yakin bahwa untuk mempertahankan kedaulatan dan pengakuan dunia, pendekatan seperti itu akan menjadi kekuatan sangat besar," terang Hadi.

Menurut Hadi, antara 1945-1950 adalah periode paling genting dalam sejarah negara Indonesia. Sayangnya dalam pembahasan sejarah Indonesia, perjuangan diplomasi mempertahankan kemerdekaan dalam kurun waktu sangat kritis itu kurang mendapat perhatian.

"Padahal seharusnya kita tidak membatasi perspektif pada perjuangan fisik, namun juga diplomasi, layaknya dua sisi mata uang," tegas Hadi.

Lebih lanjut Hadi menegaskan bahwa Konferensi Linggarjati telah membuktikan Indonesia-Belanda menginginkan babak baru hubungan dengan memprioritaskan pendekatan lunak, yang dinilai ideal bagi kedua pihak.

Hingga saat ini kedua negara memiliki hubungan erat dalam bidang pendidikan, people to people (hubungan antarmasyarakat), ekonomi, pembangunan dan warisan kebudayaan.

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads