"Akibat gempa tersebut mengakibatkan ada peningkatan di tiga gunung di Sumbar namun masih tetap aman," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Departemen Sumber Daya Energi dan Mineral (ESDM), Dr Surono menjawab pertanyaan wartawan seusai acara persemian Museum Gunung Merapi di Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, Kamis (1/10/2009).
Ketiga gunung api itu adalah Gunung Talang, Marapi dan Tandikat. Di Gunung Talang berdasarkan hasil laporan pengawas di tempat itu ada titik api diam. "Gempa tersebut memang memicu ada getaran tapi masih dalam status aman," ungkap Surono.
Menurut dia, gempa yang terjadi di Padang juga memicu terjadi gerakan di darat yakni adanya gerakan di sesar Jambi. Hanya saja gempa tersebut menimbulkan korban karena tidak banyak rumah atau bangunan seperti yang terjadi saat gempa di Bantul 2006 silam.
Dia menambahkan berdasarkan catatan sejarah wilayah Sumatera Barat sudah sering terjadi gempa. Hal itu tercatat sejak akhir abad 19 hingga tahun 2007. Gempa-gempa besar sudah sering terjadi seperti tahun 1997, 2004 dan 2007 yang terjadi dua kali gempa besar.
"Ini menandakan wilayah itu terutama di Sumbar memang rawan gempa," katanya.
Surono mengingatkan terjadi banyak gempa seperti di Jawa Barat, Bali dan beberapa daerah lainnya akhir-akhir ini menunjukkan bahwa hampir semua wilayah Indonesia adalah daerah rawan bencana seperti gempa bumi. Sebab Indonesia merupakan pertemuan dua lempeng bumi.
"Ini berarti, kita juga harus sadar bahwa kita itu hidup di daerah rawan bencana. Karena ini adalah peristiwa alam kita tidak bisa memprediksikannya. Kita hanya bisa waspada dan nenek moyang kita juga sudah mengajarkan banyak kearifan lokal, yaitu tidak asal membangun rumah," pungkas Surono.
(bgs/anw)











































