Keresahan warga perantau asal Sumbar makin menjadi-jadi karena sarana komunikasi belum normal sehari pasca gempa. Warga perantauan tidak mengetahui bagaimana nasib sanak keluarga di lokasi bencana.
Alternatif yang ditempuh pulang kampung mencarter sejumlah bus untuk ke Padang. Upaya ini terpaksa dilakukan untuk mengetahui keselamatan sanak keluarga secepatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keluarga di Medan takut, karena keluarga di Pariaman tidak dapat ditelepon. Kami pulang untuk melihat ibu di kampung, apakah selamat atau tidak," kata Saniah.
Kekhawatiran serupa juga dialami keluarga Syaiful Amri, warga kota Padang yang kini tinggal di Jalan Denai Medan dalam dua tahun terakhir. Syaiful mengatakan tidak mendapatkan kabar apapun dari keluarga di Padang.
"Saya langsung ambil inisiatif pulang kampung untuk lihat sendiri. Kami telepon dari Medan tidak bisa. Sedang media massa menayangkan Kota Padang hancur karena gempa," kata Syaiful.
(rul/irw)











































