Pantauan wartawan detikcom Budiono Darsono yang turut dalam rombongan, Rabu (30/9/2009), SBY mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan lancar.
Seluruh hadirin yang berada di John F Kennedy Jr Forum, Kennedy School of Government Institute of Politics, Harvard University, AS, itu tampak serius memperhatikan jawaban SBY.
Soal kasus di Timor Leste, SBY mengatakan, proses rekonsiliasi terus berjalan. Termasuk hubungan dengan pemerintah Timor Leste yang tetap terjalin erat. Dukungan dari pemerintah Australia juga cukup membantu proses perdamaian.
Seorang mahasiswa juga sempat menanyakan kesiapan Indonesia untuk dipimpin oleh Presiden yang berasal dari kalangan sipil. SBY lalu menjawabnya dengan mengatakan, tidak ada lagi dikotomi militer-sipil di Indonesia. Siapa pun yang terbaik berhak untuk memimpin.
"Dalam sepuluh tahun terakhir demokratisasi terus terjadi di Indonesia. Militer pun melakukan reformasi," kata SBY.
Terkait persoalan terorisme, SBY mengungkapkan bahwa upaya mencegah hal tersebut sudah dilakukan dengan teknik soft power atau pendekatan yang lebih halus. Namun ia tetap menegaskan, terorisme adalah tindakan kriminal yang harus dikikis habis.
"Dr Azahari dan Noordin M Top sudah tewas, sekarang soft power harus dilakukan," kata SBY.
Di akhir acara, ada seorang mahasiswa yang berkomentar tentang penampilan SBY. Menurut mahasiswa tersebut, pidato SBY sangat bagus dan lancar. Namun sayang, pada saat tanya jawab kurang lancar.
(mad/mpr)











































