Pantauan detikcom Selasa (29/9/2009), kelangkaan tempat sampah tersebut ditemukan di halte bus Polda Metro, halte bus Senayan, halte bus Al-Azhar hingga perempatan CSW.
"Kalau mau buang sampah terpaksa dikantongi atau dimasukkan tas," kata Novi (28), karyawan swasta di bilangan Senayan kepada detikcom.
Tempat sampah juga susah ditemukan di Taman Sisingamangaraja dan Taman Sambas, Jakarta Selatan. Tong sampah bisa ditemui di Jl Sisingamangaraja, samping pintu masuk Mal Blok M.
"Kalau menunggu bus kan biasanya sambil minum air. Nah botolnya dibuang ke mana? Nggak ada tong sampah," kata Bagus (28), warga Pluit yang sedang menunggu bus di depan Gedung Sekretariat
Asean, kawasan Blok M.
Menurut data dari Program Studi Teknik Lingkungan UI 2009 dan Dinas
Kebersihan Jakarta 2008, sektor penyumbang limbah padat terbesar adalah dari pemukiman 53 persen, perkantoran 27 persen, industri 9 persen, sekolah 5 persen, pasar 2 persen dan lainnya 2 persen.
"Dalam sehari, Jakarta menghasilkan 28 ribu ton sampah," ujar pakar
Teknologi Lingkungan UI, Firdaus Ali dalam diskusi tentang Sampah Jakarta di Gedung Mayapada, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.
Limbah padat tersebut berupa sampah organik 55 persen, kertas 21 persen, plastik 13 persen, gelas/kaca 2 persen, limbah B3 2 persen, bangunan 1 persen, logam metal 1 persen dan jenis lainnya 5 persen.
Saat ini sampah tersebut diolah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Cakung dengan kapasitas 1.000 ton per hari, TPST Bantar Gebang dengan kapasitas 4.500 ton per hari, TPST Sunter dengan kapasitas 1.000 ton perhari, TPST Ciangir Tangerang dengan kapasitas 2.500 ton per hari.
"Ini masalah serius. 5 Tahun ke depan TPST tersebut sudah overload," demikian Firdaus.
(asp/nik)











































