Akibat luapan air, Ibukota negara Manila dan provinsi sekitarnya terendam banjir hingga mencapai 80 persen. Sebelumnya, air berasal dari badai besar yang menerpa Manila.
"Kami membutuhkan bantuan kemanusiaan internasional," ujar Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro, dalam sebuah briefing televisi nasional, seperti dikutip detikcom dari AFP, Selasa (29/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teodoro mengajukan permohonan bantuan internasional sesaat setelah ia mengumumkan jumlah korban tewas telah naik tajam sampai 140 orang dengan 32 lainnya hilang. Sementara, 453.000 jiwa dipaksa mengungsi dari rumah.
Korban tewas diperkirakan akan terus naik. Presiden Gloria Arroyo menggambarkan banjir merupakan banjir terburuk yang melanda Manila pada lebih dari empat dekade.
"(Banjir) Itu adalah peristiwa ekstrim yang membuat kita sampai pada batas kemampuan. Tapi itu tidak membuat kita hancur," katanya.
Pemerintah mengkhawatirkan ancaman penyakit yang biasa terjadi pasca banjir. "Sistem ini kewalahan, unit pemerintah lokal kewalahan," kata Kepala Dewan Koordinasi Bencana Nasional, Anthony Golez, kepada wartawan.
(ape/fiq)











































