Menangi Pemilu, Angela Merkel Kembali Pimpin Jerman

Menangi Pemilu, Angela Merkel Kembali Pimpin Jerman

- detikNews
Senin, 28 Sep 2009 04:36 WIB
Menangi Pemilu, Angela Merkel Kembali Pimpin Jerman
Berlin - Kanselir Jerman Angela Merkel memenangi pemilu yang digelar di Jerman, Minggu (27/9). Dengan demikian Merkel akan kembali memimpin Jerman untuk periode 4 tahun mendatang dan berpatner dengan Partai Free Democrats (FDP).

"Kita benar-benar merayakannya hari ini. Tapi setelah ini kita memiliki pekerjaan berat yang harus dikerjakan," kata Merkel yang mengenakan jas merah menyala di hadapan para pendukungnya seperti dikutip Reuters, Minggu (27/9/2009).

Selama 4 tahun terakhir, tokoh konservatif itu menjalin 'koalisi besar' yang janggal dengan rival utamanya, partai kiri-tengah Social Demokrats (SPD). Dengan hasil pemilu ini, maka Merkel bisa membebaskan diri dari koalisi tersebut dan membangun koalisi kanan-tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Merkel, koalisi semacam inilah yang dibutuhkan untuk memulihkan ekonomi Eropa. Pemerintahan ke depan menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Di antaranya, Merkel harus mengontrol kenaikan defisit anggaran, meningkatnya pengangguran, dan mengatasi krisis kredit.

Dengan FDP, Merkel diharapkan mengkaji kembali peran negara dalam ekonomi. Sebelum Merkel, FDP terakhir kali berkuasa antara tahun 1982 hingga 1998 saat Helmut Kohl menjabat sebagai Kanselir. Partai ini sekarang harus mengatasi perbedaan pandangan tentang besaran dan waktu pemotongan pajak yang terjadi dalam perundingan koalisi.

Berdasarkan penghitungan televisi ARD dan ZDF, barisan konservatif yang mendukung Merkel, termasuk Christian Democratic Union (CDU) dan Bavarian Christian Social Union (CSU), memperoleh suara 33,6 persen. Angka ini turun dari perolehan di Pemilu 2005 yang mencapai 35,2 persen.

Sedangkan SPD yang hanya memperoleh 23,1 persen akan bergabung dengan partai Lingkungan dan Kiri untuk menjadi oposisi. Rival Merkel dari SPD, Frank-Walter Steinmeier yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri di bawah Merkel, mengaku ini merupakan 'kekalahan pahit.' (sho/mei)


Berita Terkait