Perayaan Idul Fitri oleh warga Indonesia di Swedia jatuh pada Minggu (20/9/2009) kemarin dan dipusatkan di gedung KBRI Stockholm. Diawali dengan salat Idul Fitri bersama mualaf warga Swedia dengan imam Suhariyanto dan khotib Muhamad Reza, kemudian dilanjutkan dengan tradisi bermaaf-maafan antarsesama.
Dubes Linggawaty Hakim dalam kesempatan ini menerima warga dari berbagai kalangan serta ragam agama dan berbaur tanpa jarak dengan mereka dalam tradisi 'open house' halal-bihalal. Siapa saja bisa singgah dan menikmati keramahtamahan khas Indonesia itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi toleransi dan kerukunan beragama yang telah mengakar itu juga selalu memuat pesan diplomasi kuat terutama kepada masyarakat setempat, betapa bangsa Indonesia sudah jauh lebih mapan dalam masalah agama, ras, dan golongan. Sesuatu yang menjadi isu besar di beberapa belahan dunia saat ini.
Menurut Dody, di seluruh Swedia saat ini diperkirakan jumlah warga Indonesia mencapai sekitar 900 orang dan 300 orang di antaranya tinggal di kota Stockholm dan sekitarnya.
Sedangkan jumlah warga Muslim di Swedia diperkirakan lebih dari 400.000 orang dari 9,2 juta penduduk Swedia atau hampir mencapai 5%. Jumlah ini semakin signifikan dan perayaan Idul Fitrie di berbagai tempat juga disiarkan oleh media massa setempat.
Sementara itu khotib M. Reza, dari perkumpulan pengajian masyarakat Indonesia Al-Ikhlas, dalam khotbahnya menekankan pentingnya mengambil hikmah dari berpuasa selama bulan Ramadan, agar manusia kembali fitrah yakni suci seperti bayi baru lahir dan selanjutnya menjadi sumber rahmat bagi sekitarnya.
"Khotbah ini mendapat tanggapan positif dari para jamaah, karena dinilai sangat bermanfaat dalam memberikan contoh kepada masyarakat Indonesia yang tinggal di negara sangat sekuler seperti di Swedia," demikian Dody. (es/es)











































