Demikian dikatakan Departemen Pertahanan AS, seperti dilansir Reuters, Minggu (20/9/2009).
"Penangkapan yang dilakukan malam ini adalah bagian dari langkah cepat investigasi yang tengah berlangsung," kata asisten Jaksa Agung bidang keamanan nasional, David Kris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga yang ditangkap adalah Najibullah Zazi (24), Mohammed Wali Zazi (53), dan Ahmad Wais Afzali (37).
Najibullah Zazi adalah keturunan Afganistan yang bekerja sebagai sopir bus di sebuah bandara di AS. Ia diinterogasi biro penyelidik federal AS, FBI, selama 3 hari. Sementara Mohammed Wali Zazi yang adalah ayah Najibullah, ditahan setelah ditangkap di sebuah apartemen di Denver, pinggiran Aurora.
Polisi juga menahan Ahmad Wais Afzali, keturunan Afganistan yang tinggal di Queens, wilayah kecil di Kota New York. Afzali disangka telah berbohong kepada agen federal karena dalam pernyataan tertulisnya ia mengatakan tidak pernah memperingatkan Zazi dan ayahnya bahwa mereka sedang diburu. Ia juga membantah telah memberitahukan Zazi dan ayahnya bahwa telepon keduanya tengah dilacak.
Menurut berita acara pemeriksaan, agen FBI yang melacak mobil sewaan Zazi pada 11 September lalu, menemukan sebuah laptop yang berisi instruksi perancangan sebuah alat peledak.
Zazi memberitahu kepada agen bahwa ia tidak pernah melihat dokumen sebelumnya atau menulisnya. Namun ia mengakui dalam sebuah perjalanan ke Pakistan, ia menerima instruksi soal senjata dan bahan peledak dalam sebuah pusat pelatihan Al Qaeda.
Sementera Mohammed Zazi dituduh telah berbohong karena mengaku tidak mengetahui data perencanaan bom. Ia juga dianggap berbohong karena tidak mengakui telah berkomunikasi dengan Afzali. (lrn/lrn)











































