Seperti yang umumnya terjadi di kebanyakan kota-kota di Indonesia, semarak malam takbiran karena gema takbir yang berkumandang di setiap masjid dan mushola yang terdengar hingga pagi keesokan harinya menjelang pelaksanaan sholat id, takbiran keliling dan pesta kembang api yang seringkali malah menimbulkan kepadatan lalu lintas di jalan-jalan kota menjadi pemandangan yang tidak asing lagi. Sebagian orang melihat perayaan seperti itu justru tidak ubahnya bak perayaan malam tahun baru.
Namun suasana keramaian malam takbiran seperti di Jakarta tidak akan ditemui di Kuala Lumpur, ibukota dari negara jiran, Malaysia. Malam takbiran di Kuala Lumpur terlihat tidak banyak berbeda dengan malam-malam biasa, tidak ada takbir keliling dengan arak-arakan. Bahkan gema takbir hanya terdengar sayup sayup dari beberapa masjid dari pelosok-pelosok kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan keramaian di Bukit Bintang, salah satu kawasan yang terkenal di Kuala Lumpur tempat berkumpulnya turis mancanegara, seperti tidak mengenal bulan Ramadhan ataupun Idul Fitri. Kawasan itu tetap ramai dengan denyut nadi kehidupan manusia yang gemar menikmati hiburan-hiburan malam.
Keramaian di malam hari di sekitar Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), pusat kota Kuala Lumpur pun berjalan seperti hari-hari biasa. Tidak ada arak-arakan ataupun yang memasang kembang api. Yang terlihat hanyalah sejumlah warga lokal ataupun turis asing yang sibuk mengambil foto dengan latar Menara Kembar Petronas.
Letupan kembang api, atau orang Malaysia biasa menyebutnya mercon, hanya terlihat di titik tertentu, tidak banyak. Tidak ada kesemarakan yang mencolok. Bahkan gema takbir hanya terdengar sayup-sayup, meski di kota ini banyak berdiri masjid.
Satu-satunya kawasan yang sedikit lebih semarak di Kuala Lumpur adalah Chowkit. Di kawasan ini, hampir 70 persen memang dihuni oleh warga negara Indonesia, baik yang memiliki Permanent Resident, berdokumen, maupun ilegal. Suara takbir masih terdengar jelas dari masjid di kawasan itu. Sesekali ada letupan kembang api, dengan keramaian masyarakat yang biasa seperti pada hari-hari biasa.
Pemerintah Malaysia memang mengatur secara ketat aktifitas keagamaan warganya. Hal ini untuk menjaga kerukunan sosial diantara umat Muslim Melayu (60 persen), umat Hindu India (8 persen), dan Cina (25 persen). Kurang semaraknya gema takbir di Kuala Lumpur boleh jadi untuk menjaga kerukunan antara umat Muslim Melayu dengan umat lainnya.
Suasana arus mudik juga terjadi di Kuala Lumpur sebagaimana di Jakarta. Penduduk Kuala Lumpur berjumlah lebih kurang 2 juta orang. Sebagian besar daripada mereka berasal dari daerah-daerah di sekitar Kuala Lumpur, seperti Selangor, Negeri Sembilan, Johor, Melaka, Kedah, dan Pahang.
Ketika menjelang lebaran, muslim Melayu yang bekerja dan tinggal di Kuala Lumpur pun melakukan 'balik kampung'. Sehingga lalu lintas di jalan tol Utara Kuala Lumpur menuju daerah-daerah di utara, seperti Pahang, Kedah, dan Perak, dan jalan tol Selatan menuju Selangor, Negeri Sembilan, Melaka, dan Johor dipadati arus mudik. Kepadatan arus mudik ini sering membuat kemacetan panjang dan mengalami puncaknya biasanya pada H-2. dan H-1 Idul Fitri. Sehingga bisa dipastikan, suasana siang hari di Kuala Lumpur pada Idul Fitri akan lebih sunyi dari hari-hari biasa, kecuali warga etnis India dan Cina yang tetap menjalankan aktifitas keseharian mereka.
Inilah malam Idul Fitri di Kuala Lumpur yang sunyi dari hingar bingar takbir keliling dan kembang api.
(rmd/mok)











































