Untuk pertama kalinya di Berlin digelar sebuah festival Ramadan sebulan penuh bertajuk Die Naechte Des Ramadan (Malam-malam Ramadan). Ini adalah festival di taman Lustgarten dan sekitarnya dan setiap malam diisi berbagai kesenian Islam dari seluruh dunia.
Indonesia pun tampil dengan Wayang Kulit dan Gamelan, alat kesenian yang merupakan alat dakwah penyebaran Islam di Jawa. Lakonnya adalah kisah Sunan Kalijaga yang berguru pada Sunan Bonang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemain Gamelan adalah kelompok Lindhu Raras, kelompok Gamelan dari Berlin yang berisi bule-bule. Dalangnya adalah Sri Joko Raharjo, dalang muda yang menjadi pelatih dan kurator di Museum Dahlem, Berlin.
"Saya pakai wayang biasa. Tapi untuk Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, saya membuat sendiri wayangnya," kata Joko kepada detikcom.
Pertunjukan wayang kulit ini pun berlangsung seru. Sekitar 300 penonton memenuhi Lustgarten. Mereka antusias menyaksikan kisah Raden Sahid, mulai menjadi perampok, bertobat, berguru pada Sunan Bonang, menjaga sungai dan menjadi Sunan Kalijaga.
Pementasan Wayang Kulit ini memakai bahasa Jawa. Tapi jangan kuatir, para penonton diberi terjemahan cerita dalam bahasa Jerman. Yang seru, sang Dalang menyelipkan bahasa Jerman dalam wayang kulitnya lewat tokoh Limbuk dan ibunya Cangih.
Sebagai adegan selingan, Limbuk dan Cangih dengan bahasa Jerman mengenalkan budaya Indonesia sambil melontarkan lelucon. Penonton pun dibuat tertawa tergelak-gelak. Selain itu wayang kulit ini dikombinasikan juga dengan Tari Kuda Lumping.
"Pertunjukan ini sangat bagus, saya baru pertama kali melihat wayang kulit," kata Karolina, seorang penonton.
Usai pertunjukan para penonton pun mengerubuti panggung. Mereka antusias melihat bentuk wayang kulit dari dekat. Salah satu pengasuh Lindhu Raras, Wawang Sudarga merasa puas dengan penampilan mereka setelah hampir 2 bulan persiapan.
"Panitia memang sudah berkomunikasi dengan kita sejak lama untuk penampilan wayang kulit ini," kata dia.
(fay/mok)











































