"Kami melaporkan apa yang baru terjadi pada anak saya. Selama ini dia disiksa sehingga dia sakit di bagian dada, tidak bisa bicara dan dipanggilkan dokter dari luar. Sayangnya dia tidak divisum," ujar Abu Jibril di Kantor Komnas HAM, Jl Latuharhari, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2009).
Menurut Abu Jibril, janji Densus 88 untuk mempertemukan dirinya dengan putranya hanya omong kosong belaka. Berbagai alasan selalu digunakan Densus 88 ketika Abu Jibril hendak menjenguk anak sulungnya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abu Jibril juga merasa keberatan dengan pencekalan terhadap dirinya untuk memberikan ceramah. Menurutnya hal ini melanggar hak asasi.
"Ini adalah kezaliman," katanya.
Abu Jibril menambahkan putranya juga merasa sedih dengan kabar penggerebekan di Solo yang menewaskan Noordin M Top. Dia merasa sedih karena umat Islam terus menjadi sasaran.
"Ya saya sudah beri tahu dia. Dia terkejut, kenapa umat Islam saja yang kena sasaran," pungkas Abu Jibril.
(rdf/nrl)











































