Hal itu disampaikan Zaidi dalam pernyataan pertamanya setelah dibebaskan kemarin, di studio televisi Al-Baghdadiya, seperti dilansir guardian.co.uk, Selasa (15/9/2009) malam.
Zaidi menjelaskan dengan detil tindak penyiksaan yang dialaminya dalam konferensi pers tersebut. Dia bahkan berjanji akan mengungkap nama pejabat senior pemerintah dan tentara yang menurutnya terlibat dalam penganiayaan terhadap dirinya.
Dikatakan dia, penyiksaan terjadi sesaat setelah dirinya ditahan di penjara Baghdad. Dia juga mengakui sempat dibenamkan dalam air dingin. Kini dia menyatakan hidup dalam ketakutan, dia juga yakin intelijen AS akan mengejar dirinya.
"Sangat mengerikan, badan intelijen AS dan semua afiliasinya, mereka mengandalkan segala cara untuk melacak saya sebagai seorang pendukung pemberontak...dalam usahanya untuk membunuh saya," tutur Zaidi.
"Dan saat ini saya ingin memperingatkan semua kenalan saya dan orang-orang yang dekat dengan saya, bahwa badan-badan ini akan menggunakan segala cara untuk menjebak dan membunuh dan melenyapkan saya, baik secara fisik, sosial, maupun dalam profesi," ungkap dia.
Setelah dipenjara selama 9 bulan di penjara Baghdad, Zaidi akhirnya dibebaskan Selasa (15/9) siang dan langsung menuju ke studio TV Al-Baghdadiya, tempatnya bekerja, dengan dikawal beberapa petugas keamanan. Dia mendapatkan sambutan meriah saat akan memasuki studio, 6 ekor domba disembelih di sepanjang jalan menuju studio, sementara dia berjalan dengan dihujani gula-gula dan diiringi genderang drum.
Sementara itu di tempat tinggal Zaidi, daerah pinggir kota Rashid dekat sungai, keluarganya tengah merayakan kebahagiaan atas kepulangan Zaidi ke rumah. Namun, Zaidi menghabiskan waktunya seharian penuh di tempat kerjanya. Di sana dia menerima pemeriksaan medis dan membaca puluhan surat dan faks dari para pendukungnya.
Keluarga dan bos Zaidi menyatakan kekhawatiran mereka bila Zaidi kembali menjadi jurnalis. Sedangkan Zaidi sendiri, yang juga memiliki karir dalam politik, lebih memilih untuk menjadi pendukung sayap kiri. Dia mengatakan akan memulai karir barunya dalam membantu warga Irak yang kesusahan.
Selasa malam, Zaidi terlihat berada di bandara Baghdad, dia diduga akan terbang ke Damaskus untuk menjalani perawatan lebih lanjut atas luka-luka yang diterimanya semasa dalam penjara, seperti gigi depannya yang tanggal dan patah kaki yang dialaminya yang tidak dirawat secara tepat.
Selain itu, Zaidi memiliki daftar undangan yang panjang. Dia dijadwalkan untuk bertemu patron pemimpin Libia, Muammar Ghaddafi. Dia juga akan menerima bantuan uang sebesar Rp 971 juta ($100 ribu dolar) dari Presiden Venezuela, Hugo Chávez. (nvc/nrl)











































