"Wajah lama kabinet diperkirakan akan mencapai 20-30 persen atau akan tetap sama 7-12 kursi. Andi Mallarangeng, Jero Wacik, Sudi Silalahi, adalah orang-orang yang dipercaya SBY, dan kemungkinan akan tetap," kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Bima Arya Sugiarta.
Hal itu dia sampaikan dalam media briefing yang dilangsungkan di Kantor Charta Politika, Jl Cipaku 2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2009).
Dua hal yang penting dalam mempertimbangkan penunjukan menteri, menurut Bima, adalah keberlanjutan dan kepercayaan (sustainability and trust). Angka 30 persen itu dia nilai masih moderat.
"Kabar bagusnya, 70-80 persen adalah new comer," kata Bima.
Menurut dia, kecenderungan kabinet ke depan adalah kabinet medium. Skenario kabinet medium terdiri dari kalangan profesional dan kader partai pendukung. Partai pendukungnya adalah Partai Demokrat, PKS, PPP, PKB, PAN. Selain itu Golkar juga diprediksi bakal mendapat jatah.
Masuknya Golkar, menurut Bima, tidak akan mengurangi jatah kursi partai lainnya. Yang mungkin terjadi adalah pergeseran pos sehingga pos yang tadinya dijatahkan untuk partai tertentu berganti menjadi milik partai lain.
"Memang ada kekhawatiran seperti PKS yang takut jatahnya terganggu. Tapi sebenarnya kalau sudah ada kesepakatan, jatah mereka tidak akan terganggu dengan kehadiran Golkar karena yang berkurang pos lain seperti pos profesional," ucapnya.
Bima mengatakan jumlah kursi dalam kabinet akan mencapai 34 orang. Pembagiannya adalah 4 kursi untuk PD, 3 untuk PKS, 2 untuk PPP, 2 untuk PAN, 2 untuk PKB, dan 3 untuk Golkar.
"Sehingga masih tersisa 18Β kursi yang akan diisi oleh kalangan profesional," ucapnya.
Untuk kursi Menteri Keuangan, Bima memprediksikan bakal tetap dipegang Sri Mulyani. Sedangkan untuk posisi Menteri Pertahanan, partai yang paling berpeluang adalah Golkar.
"Untuk Departemen Pertahanan, tidak semua partai mempunyai orang untuk di posisi itu. Dalam hal ini Golkar yang paling berpeluang karena ada Theo (L Sambuaga) dan Muladi," ujar Bima.
Mengenai PDIP, Bima beranggapan partai banteng moncong putih itu memiliki peluang masuk kabinet. Namun saat ini banyak kalangan menghendaki agar ada ruang oposisi sehingga kemungkinan PDIP tidak akan masuk.
"Dan sepertinya sulit bagi Mega untuk dapat berubah drastis," kata Bima.
(sho/iy)











































