'Ayo Goyang Bersama Malaysia'

'Ayo Goyang Bersama Malaysia'

- detikNews
Selasa, 15 Sep 2009 01:35 WIB
Ayo Goyang Bersama Malaysia
Kuala Lumpur - Slogan 'Ganyang Malaysia' yang pernah disuarakan presiden pertama RI Soekarno kembali terdengar lagi menyusul memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia. Namun slogan tersebut dinilai sejumlah pihak tidak perlu lagi diangkat karena tidak relevan dan malah hanya akan memperkeruh hubungan Indonesia-Malaysia yang terjalin baik sejak lama.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menyerukan agar slogan tersebut jangan lagi digunakan. Sebagai gantinya, dia mengusulkan slogan baru "Ayo Goyang Bersama Malaysia"

"Kalau misalnya ada slogan Ganyang Malaysia, saya akan buat yang baru Ayo Goyang Bersama Malaysia. Bahkan kalau perlu dibuatkan blognya. Ini untuk meredam ketegangan dan memperbaiki kembali hubungan Indonesia-Malaysia yang sekarang sedang diuji," kata Yon dalam jumpa pers bersama beberapa NGO Non-Governmental Organization) Indonesia dan Malaysia di Hotel Saujana Kuala Lumpur, Senin (14/9/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yon mengatakan, ada dua teori yang bisa digunakan dari perspektif budaya untuk membaca hubungan Indonesia-Malaysia kini. Pertama, hubungan Indonesia-Malaysia kini diibaratkan hubungan dua remaja yang sedang jatuh cinta, benci tapi cinta.

"Kedua remaja ini ingin mengekalkan hubungan mereka melalui perkawinan, tapi ada pihak lain yang tidak suka dengan hubungan mereka. Sehingga mereka selalu saja ditimpa masalah," tuturnya.

Teori kedua, lanjut Yon, hubungan bersaudara yang saling bertetangga. Menurutnya, sudah menjadi hal yang wajar jika dalam realitas sehari selalu ada masalah yang menimpa dua pihak yang berjiranan.

"Keduanya pasti akan menemukan solusi bagi permasalahan mereka. Karena dalam bertetangga tentu ada etikanya," imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ada realitas yang harus diketahui oleh rakyat kedua negara bahwa ada generasi yang lahir tahun 1980-an dan 1990-an, tapi mereka tidak mempunyai kesadaran emosional dan kultural terhadap kebudayaan Melayu sebagaimana para orang tua mereka. Kondisi ini, kata Yon, yang menyebabkan mereka mudah diprovokasi ketika ada persoalan yang menyangkut budaya dan sosial masyarakat Indonesia dan Malaysia.

"Padahal banyak orang Indonesia bangga punya saudara di Malaysia. Begitupun orang Malaysia yang bangga karena keturunan dari Indonesia. Karena keduanya satu rumpun sama budaya," kata Yon.

Bahkan sebagai Penasehat Ikatan Alumni Universitas Indonesia, Yon akan mengarahkan dan menghimpun mahasiswa UI untuk terus berperan aktif menjaga dan meningkatkan hubungan baik Indonesia-Malaysia.

Sekjen Indonesia Strategic Center (ICS), Bagus Satriyanto sependapat dengan asumsi yang disampaikan Yon mengenai adanya kemungkinan pihak ketiga yang cemburu. Menurut Bagus, ada pihak lain yang cemburu, tidak menginginkan bersatunya dua negeri serumpun ini.

"Saya yakin kawasan (Asia Tenggara) ini akan menjadi pusat peradaban dunia di masa mendatang sendainya bangsa Melayu bersatu. Karena itu ada yang tidak suka," cetusnya.

Selain mereka, jumpa pers tersebut juga dihadiri Direktur Yayasan Generasi Baru Nusantara, Mohamad Ezam Mohd Nor, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Reform (CIR), Sapto Waluyo, Ketua Eksekutif Indonesia-Malaysia Strategic Center, Ismail H Awab, Deputi Sekjen Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia, Chairul Anhar, dan Direktur Eksekutif Yayasan Generasi Baru Nusantara, Imam Nur Azis. (rmd/ape)


Berita Terkait