Setidaknya 6 nama sudah siap menghadang langkah Laode Ida untuk merebut kursi pimpinan DPD. Keenam nama itu adalah Aryanthi Baramuli Putri (Sulawesi Utara), Hana Hasanah Fadel Muhammad (Gorontalo), Laode Ida (Sulawesi Tenggara), Muhammad Asri (Sulawesi Barat), Nurmawati Dewi Bantilan (Sulawesi Tengah), dan Abdul Azis Qahar Mudzakkar (Sulawesi Selatan).
"Kalau melihat peta itu langkah Pak Laode tidak mudah, atau bahkan bisa saja tidak lolos diseleksi di tingkat gugus," kata senator terpilih dari Sulawesi, A Jabbar Toba, dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (14/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nama-nama yang muncul itu akan kita kerucutkan lagi menjadi satu sebagai wakil resmi dari Gugus Sulawesi," papar Jabbar.
Munculnya tokoh-tokoh muda di daerah ini, lanjut Jabbar, akan semakin membuat persaingan menjadi ketat. "Pasti persaingan ketat. Saya dengar dukungan Aryanthi sangat kuat," kata Jabbar.
Hal yang sama juga disampaikan salah satu kandidat, Nurmawati Dewi Bantilan. Menurutnya, semua kandidat punya peluang yang sama. Popularitas yang dimiliki kandidat tidak menjadi jaminan untuk dengan mudah memenangkan persaingan di tingkat gugus.
Nurmawati mengakui Laode yang sudah mendeklarasikan diri belum tentu bisa menang di persaingan tingkat gugus. "Setiap anggota punya rapor dan independensi sendiri. Bukan ditentukan nama besar. Kita lihat saja siapa yang terbaik. Perubahan terjadi dengan cepat," ungkapnya.
Anggota DPD terpilih dari Sulawesi Barat, Iskandar Muda Baharuddin Lopa, melihat langkah Laode Ida maupun AM Fatwa masih sebatas klaim di media massa. Dukungan riilnya tetap saja belum bisa terukur.
"Kalau sudah ada survei, jelas dukungannya. Mereka kan baru menyampaikan siap mencalonkan diri dan meminta dukungan kepada anggota DPD. Persoalan apakah didukung atau tidak itu belum dibuktikan," kata putra Baharuddin Lopa ini.
"Laode Ida memang lebih berpengalaman, tapi itu bukan jaminan (terpilih) di Gugus Sulawesi. Semua akan tergantung proses pendekatan dan ikatan emosional yang dilakukan para calon," paparnya.
Hal lain yang juga akan menjadi ganjalan Laode adalah banyaknya masalah yang pernah menimpa dirinya akibat komentarnya. Misalnya, pernah terjadi perselisihan antara Laode dengan tokoh Sulawesi, Aksa Mahmud, yang sampai ke Polda Metro Jaya pada tahun 2007.
Laode juga pernah berseteru dengan Ginandjar Kartasasmita seusai pemilihan Ketua DPD tahun 2004. Pemicunya soal dugaan adanya money politic kepada calon tertentu. Selain itu Laode juga pernah berseteru dengan mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie pada saat judicial review UU yang diajukan DPD.
"Catatan-catatan ini yang akan menjadi pertimbangan teman-teman untuk memilih Pak Laode," pungkas senator asal Sulawesi itu.
(yid/sho)











































