Peristiwa itu terjadi di rumah keluarga Muhammad Nawang Layung, Jl. Letjend Suprapto 43 Semarang, Senin (14/9/2009). Mendengar ada pembagian zakat, watusan warga mendatangi rumah tersebut sejak pagi.
Saat pembagian zakat dimulai, sekitar pukul 09.00 WIB, ratusan warga merangsek. Panitia dan polisi yang menjaga cukup kerepotan. Warga berdesak-desakan.
Dalam hitungan jam, zakat berupa uang Rp 20 ribu yan dibungkus amplop itu ludes. Panitia pun menghentikan kegiatannya. Karena merasa sudah antre lama, warga yang tidak kebagian memrotes.
Keluarga Nawang Layung memang membatasi penerima zakat dengan hanya mempersiapkan 270 amplop. Namun antusiasme warga ternyata sangat tinggi, sehingga ada yang tidak kebagian.
Tiap tahun, keluarga Nawang Layung selalu membagikan zakat mal. Keturunan Tasripien, pengusaha kaya raya di Semarang di era kolonial ini menganggap kegiatan itu sudah menjadi tradisi.
"Jumlahnya hanya segitu. Tahun depan, kami berharap bisa menyiapkan lebih banyak," kata salah satu kerabat Nawang Layung.
Meski ricuh, pembagian zakat itu tak sampai menimbulkan hal buruk. Warga meninggalkan lokasi setelah memastikan kegiatan itu benar-benar dihentikan.
(try/djo)











































