"Biasanya kerusuhan di berbagai daerah konflik justru memanfaatkan momen Idul Fitri. Kenyataannya, Idul Fitri tahun 2007 meledak kerusuhan, itu ada itu settinga dari luar negeri," kata pengamat intelijen Wawan H Purwanto usai dialog tentang terorisme di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta, Jum'at (11/9/2009).
Wawan mengaku, pada tahun 2007 lalu dirinya sudah menyampaikan pesan kepada sejumlah ulama tentang adanya setting luar negeri untuk melakukan kekacauan di Indonesia. Biasanya setting itu dilakukan melalui sebuah rapat-rapat di hotel-hotel terkemuka di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, Wawan mengimbau kepada seluruh aparat keamanan dan tokoh agama mewaspadai kemungkinan aksi teror dan kekerasan di masa lebaran ini. "Perlu adanya kewaspadaan, menutup celah-celah dan blok-blok terjadinya aksi brutal lainnya yang cenderung akan dibenturkan," ungkapnya.
Selain itu, lanjut Wawan, perlu adanya konsentrasi aparat keamanan, baik terbuka maupun tertutup, di sejumlah daerah. Misalnya Papua, Maluku, Poso dan beberapa wilayah di Medan.
"Di Jakarta sudah ada test case, tapi susahnya melalui perkelahian antara pemuda warga. Karenanya, para ulama melakukan pendekatan pada mereka untuk menutup celah tersebut," ujarnya lagi.
(zal/sho)











































