"Sebenarnya obat yang paling mujarab untuk menghadapi krisis global adalah menggunakan ekonomi liberal," ujar Direktur Eksekutif Freedom Institute Luthfy Assyaukanie.
Hal ini disampaikan Luthfy dalam diskusi bertajuk "Sistem Ekonomi Liberal Versus Sistem Ekonomi Kerakyatan" di kantor LSI Jalan Lembang Terusan, Menteng, Jakpus, Kamis (10/9/2009).
Menurut Luthfy, dengan menerapkan sistem ekonomi liberal investor menjadi sahabat Indonesia. Membuat negara-negara lain mau melakukan transaki dan menjalin kerjasama dengan negara kita.
"Dengan begitu banyak negara yang akhirnya berinvestasi," terang Luthfy.
Luthfy menambahkan sejak orde baru hingga sebelum SBY tidak ada yang menganut ekonomi liberal. Indonesia sedang mencari sistem ekonomi yang menguntungkan.
"Kita sedang mencari sistem ekonomi yang paling menguntungkan dan terbukti hanya sistem ekonomi liberal yang menjadi obat krisis," tandasnya.
Hal berbeda diungkapkan direktur eksekutif Megawati Center Arief Budimanta. Menurutnya sistem ekonomi liberal sangat merugikan pasar karena hanya masyarakat kelas atas yang paling diungtungkan.
"Kita bisa melihat dari APBN kita lebih banyak yang untuk Bank Century atau irigasi tersier", ujar Arief
Menururt Arief kesalahan Pemerintah saat ini adalah menggunakan ekonomi jalan tengah. Arief menyarankan Pemerintah menerapkan sistem ekonomi kekrakyatan,"Tidak ada itu ekonomi jalan tengah sangat merugikan masrakat, sebaiknya kembali ke makna Pasal 33 UUD 1945," Tegas Arief.
(van/rdf)











































