"Dalam hal ini masyarakat belum melihat polisi bersih dari KKN dan telah terjadi penurunan legitimasi di Polri. Jika legitimasi menurun berarti kerjasama dengan masyarakat belum baik," kata anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Erlyn Indarti di Polsek Matraman, Jl Matraman, Kamis (10/9/2009).
Dia juga melihat, yang patut disesalkan adalah Polri sebagai sumber hukum masih dilihat sebagai lembaga yang arogan dan tidak humanis serta tidak profesional sehingga terjadi hal seperti itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini juga hendaknya jangan kemudian dimunculkan seolah-olah ada pertentangan antara TNI dan Polri. "Karena ini berbahaya," tambahnya.
Dia mengimbau masyarakat bila ada persoalan dengan kepolisian yang tidak sesuai segera disampaikan ke Kompolnas. "Sekarang perlu dibangun legitimasi bagi Polri," tutupnya.
Penanganan polisi dalam kasus penyerangan Polsek Matraman ini juga disesalkan tokoh masyarakat setempat. "Tidak ada aplikasi ke bawah sehingga masyarakat apatis. Yang terjadi semestinya Kapolsek menyurati kecamatan, kemudian kelurahan dan RT serta RW," terang Samsul Alam.
Penyerangan Polsek Matraman terjadi pada Sabtu 5 Agustus dini hari. Saat itu 20 pria memakai sepeda motor menyerang dan melempari kantor polsek. Kaca-kaca bangunan dan 2 buah mobil rusak. Penyerangan ini ditengarai sebagai buntut dari penahanan seorang rekan puluhan pemuda itu yang ditahan karena ikut trek-trekan liar.
(ndr/nrl)











































