Menyikapi aksi tersebut, Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Rais Yatim mengatakan, tidak akan membuat balasan atau mengirimkan nota protes apapun kepada pemerintah Indonesia.
"Saya sudah jawab dalam surat saya kepada Pak Wacik (Menbudpar RI Jero Wacik). Walaupun di Jakarta bendera Malaysia kami dibakar. Walaupun Kedutaan kami dilempari dengan batu, tapi kami di Kuala Lumpur tidak akan berbuat itu. Tidak ada tanda apapun kami akan melakukan seperti hal itu," kata Rais dalam jumpa pers bersama Dubes RI Da'i Bachtiar di sela-sela acara buka puasa bersama di gedung stasiun televisi RTM, Kuala Lumpur, Selasa (8/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan menurut dia, yang terpenting saat ini untuk dilakukan kedua negara sebenarnya adalah memperjuangkan peningkatan ekonomi dan survival dalam ASEAN serta bekerjasama dalam memperjuangan berbagai kepentingan bersama baik di tingkat regional maupun global.
Dalam kesempatan tersebut, Rais kembali menegaskan bahwa Malaysia tidak pernah mengklaim apapun yang menjadi kebudayaan Indonesia. Dia menjelaskan, di Malaysia banyak terdapat orang Aceh, Minangkabau, Bugis, Mandailing, Jawa, dan berbagai pelosok nusantara yang sudah hidup sejak lama. Sejak lama mereka hidup dengan cara hidup dan budaya yang sama dengan nenek moyang asalnya secara turun temurun.
"Apakah adil kalau mereka tidak dibenarkan untuk mengamalkan cara hidup dan budaya mereka yang sudah turun temurun? Permasalahan ini bukan yang pertama kali. Kami tidak akan ambil tindakan tergesa-gesa. Kami akan selalu gunakan saluran budaya dan diplomatik," cetus Rais.
Dubes RI untuk Malaysia Da'i Bachtiar mengatakan, sebagai negara bertetangga, kedua pemimpin negara ingin agar hubungan yang sudah terjalin baik dapat terus dibina sehingga dapat membangun kesejahteraan bagi rakyatnya masing-masing.
"Karena kita bertetangga, maka ada saja masalah yang muncul. Tapi setiap masalah yang muncul harus ada solusi," kata Da'i.
Da'i juga menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terbawa emosional dalam menyikapi persoalan yang sedang dihadapi antara Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, respon yang berkembang dalam kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia adalah sebagai ekspresi demokrasi yang sedang berkembang.
"Tapi yang kita harapkan semua bahwa bentuk-bentuk unjuk rasa yang dilakukan harus menunjukkan hal-hal yang beretika, tidak melanggar ketertiban umum, dan tidak melanggar hukum. Kita terima berbagai bentuk ekpresi ketidakpuasan, tapi harapan kita semua adalah tetap menjaga hubungan dua negara ini yang sudah baik," pungkas Da'i.
(rmd/irw)











































