Didemo Masyarakat RI, Malaysia Tetap Tempuh Jalur Damai

Laporan dari Malaysia

Didemo Masyarakat RI, Malaysia Tetap Tempuh Jalur Damai

- detikNews
Rabu, 09 Sep 2009 03:22 WIB
Didemo Masyarakat RI, Malaysia Tetap Tempuh Jalur Damai
Kuala Lumpur - Hubungan Indonesia-Malaysia yang memanas dalam beberapa bulan terakhir berbuntut pada munculnya berbagai aksi demonstrasi masyarakat Indonesia di beberapa daerah. Tidak jarang, demonstrasi yang terjadi diikuti aksi pemakaran replika bendera nasional Malaysia dan pelemparan batu ataupun telur busuk terhadap kantor perwakilannya di Indonesia.

Menyikapi aksi tersebut, Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Rais Yatim mengatakan, tidak akan membuat balasan atau mengirimkan nota protes apapun kepada pemerintah Indonesia.

"Saya sudah jawab dalam surat saya kepada Pak Wacik (Menbudpar RI Jero Wacik). Walaupun di Jakarta bendera Malaysia kami dibakar. Walaupun Kedutaan kami dilempari dengan batu, tapi kami di Kuala Lumpur tidak akan berbuat itu. Tidak ada tanda apapun kami akan melakukan seperti hal itu," kata Rais dalam jumpa pers bersama Dubes RI Da'i Bachtiar di sela-sela acara buka puasa bersama di gedung stasiun televisi RTM, Kuala Lumpur, Selasa (8/9/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, dengan 'membalas' melalui sikap demikian dapat menjaga terwujudnya perasaan damai dalam masyarakat kedua negara. "Mereka yang terus bersikeras menggunakan cara-cara fisik, mudah-mudah Allah SWT memberi petunjuk kepada mereka agar terwujud kedamaian. Ini yang baik bagi kedua negara," ujar Rais.

Bahkan menurut dia, yang terpenting saat ini untuk dilakukan kedua negara sebenarnya adalah memperjuangkan peningkatan ekonomi dan survival dalam ASEAN serta bekerjasama dalam memperjuangan berbagai kepentingan bersama baik di tingkat regional maupun global.

Dalam kesempatan tersebut, Rais kembali menegaskan bahwa Malaysia tidak pernah mengklaim apapun yang menjadi kebudayaan Indonesia. Dia menjelaskan, di Malaysia banyak terdapat orang Aceh, Minangkabau, Bugis, Mandailing, Jawa, dan berbagai pelosok nusantara yang sudah hidup sejak lama. Sejak lama mereka hidup dengan cara hidup dan budaya yang sama dengan nenek moyang asalnya secara turun temurun.

"Apakah adil kalau mereka tidak dibenarkan untuk mengamalkan cara hidup dan budaya mereka yang sudah turun temurun? Permasalahan ini bukan yang pertama kali. Kami tidak akan ambil tindakan tergesa-gesa. Kami akan selalu gunakan saluran budaya dan diplomatik," cetus Rais.

Dubes RI untuk Malaysia Da'i Bachtiar mengatakan, sebagai negara bertetangga, kedua pemimpin negara ingin agar hubungan yang sudah terjalin baik dapat terus dibina sehingga dapat membangun kesejahteraan bagi rakyatnya masing-masing.

"Karena kita bertetangga, maka ada saja masalah yang muncul. Tapi setiap masalah yang muncul harus ada solusi," kata Da'i.

Da'i juga menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terbawa emosional dalam menyikapi persoalan yang sedang dihadapi antara Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, respon yang berkembang dalam kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia adalah sebagai ekspresi demokrasi yang sedang berkembang.

"Tapi yang kita harapkan semua bahwa bentuk-bentuk unjuk rasa yang dilakukan harus menunjukkan hal-hal yang beretika, tidak melanggar ketertiban umum, dan tidak melanggar hukum. Kita terima berbagai bentuk ekpresi ketidakpuasan, tapi harapan kita semua adalah tetap menjaga hubungan dua negara ini yang sudah baik," pungkas Da'i.

(rmd/irw)


Berita Terkait