Saat 'Tangan-tangan itu' Menengadah ke Cikeas

Saat 'Tangan-tangan itu' Menengadah ke Cikeas

- detikNews
Selasa, 08 Sep 2009 15:28 WIB
Saat Tangan-tangan itu Menengadah ke Cikeas
Jakarta - Semua orang mahfum bahwa pemenangan SBY-Boediono di Pilpres 2009 tidak lepas dari andil banyak 'tangan'. Kini menjelang penyusunan pos kabinet, 'tangan-tangan' tersebut terlihat bergerombol menengadah mengharapkan balas jasa.

Fenomena tangan mengengadah ini sama persis dengan yang terjadi pasca Pilpres 2004. Ada yang karena kemampuannya mendapatkan pos dalam kabinet, jabatan di BUMN, posisi pemerintahan, sekadar proyek dan ada yang merasa jasanya kurang mendapat balasan setimpal.

Merujuk Pilpres 2004, mudah saja menyebut siapa-siapa dari tim SBY-JK yang mendapatkan balasan jasa. Di dalam pemerintahan ada M Ma'ruf, yang atas perannya sebagai menajer tim kampanye JK dia diganjar jabatan Mendagri (sebelum terserang stroke lalu digantikan oleh Mardiyanto).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di lembaga pemerintahan non departemen ada nama Joyo Winoto dan M.Luthfi yang masing-masing kini menjabat Kepala BPN dan Kepala BKPM. Di masa kampanye Joyo adalah anggota tim ekonomi sedangkan Luthfi yang pengusaha muda itu koordinator media massa untuk tim SBY-JK.

Tetapi ada pula yang akhirnya berada di luar lingkaran dengan bermacam alasan. Ada yang beralasan perannya di tim pemenangan bukan berharap imbal jasa, tapi ada juga yang beterus terang karena 'tidak terpenuhinya fatsun politik'.

Bila menyebut nama, salah satu yang termasuk dalam kelompok terakhir adalah Yenny Wahid. Setelah sempat mendapat tempat sebagai Saff Khusus Presiden RI bidang komunikasi politik, putri sulung Gus Dur ini mengajukan pengunduran diri.

Jelas SBY sadar ada banyak tangan menengadah di sekitarnya. Maka jauh hari dia katakan tidak akan mengabaikan pihak-pihak pendukungnya. Tentu dalam batas-batas yang wajar dan proporsional dengan tetap memperhatikan kapasitas dan kapabilitas personal yang bersangkutan.

Mulai 1 Oktober,Β  SBY-Boediono akan menyusun kabinet pemerintahannya. Terkait tahapan yang belakangan beredar desas-desus tentang susunan kabinet berikut nama-nama dari tim sukses dan parpol koalisi pendukung untuk setiap pos.

"Hampir tiap hari ada 10 nominasi berbeda. Kalau sebulan, ada berapa ratus dan yang ditampilkan juga putra terbaik bangsa. Dari ratusan nama itu, mungkin cuma 30 lebih sedikit yang saya pilih. Jadi bila ada teman koalisi masuk di kabinet, bukan artinya yang lain tidak baik," ujar SBY dalam acara berbuka puasa bersama PD di Cikeas, Kab. Bogor beberapa waktu lalu (5/9).

Tidak tertutup kemungkinan dari sekian banyak nama kandidat yang beredar di media massa itu akan duduk dalam kabinet maupun pos lain. Tetapi banyak pula akhirnya berada di luar lingkaran, baik atas dasar pilihan pribadi yang iklas maupun karena ada 'fatsun politik' yang tidak terpenuhi.

Kita tunggu saja siapa mendapatkan apa atas jasanya. Sebaliknya siapa pula yang marah-marah besar akibat merasa tidak mendapatkan imbalan jasa.
(lh/yid)


Berita Terkait