"Sebab pastinya enggak tahu. Kemungkinan karena banyak utang. Maklum rakyat kecil," kata tetangga korban, Munandar, usai menerima jenazah korban di rumah duka, Jl Tambora II, RT 2/5 Jakarta Barat, Senin (7/9/2009).
Purwanto hanyalah warga biasa. Sehari-hari ia berjualan nasi uduk keliling kampung. Penghasilannya pun tak seberapa. Hanya pas untuk biaya kontrakan dan membiayai 3 anak dan satu istri.
"Sudah lama nggak pulang kampung di Kebumen. Makanya dia tertekan ingin pulang tetapi nggak punya duit," imbuh Munandar.
Rasa putus asa Purwanto berujung pada kematiannya. Saat subuh seusai sahur, ia keluar rumah sebentar. Lalu, saat kembali dia telah menenteng tali yang diketahui untuk bunuh diri.
"Ketiga anaknya sekarang yatim. Nggak tahu kemana setelah ini," ucap Munandar menirukan Empung, istri Purwanto yang sekarang telah menjadi janda.
(Ari/sho)











































