Mereka membawa spanduk bertuliskan antara lain 'RUU K Disahkan = Disintegrasi Bangsa', 'Tolak RUU K Demi Satu Indonesia Satu PLN'.
Mereka yang mengenakan baju seragam merah dan biru itu datang dengan membawa 1 mobil pick up beserta sound system di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2009).
Menurut koordinator aksi, Sastro, RUU Ketenagalistrikan yang akan disahkan Selasa (8/9/2009) besok dalam Rapat Paripurna DPR akan memecah usaha kelistrikan (unbundling) agar dapat diambil oleh berbagai perusahan modal raksasa. Sehingga tidak akan ada kompetisi yang akan menekan harga listrik menjadi semurah-murahnya buat rakyat.
"Yang akan terjadi adalah kongkalikong serta praktek kartel di antara modal swasta seperti yang sudah terjadi pada pengalaman berbagai privatisasi barang kebutuhan rakyat lainnya," kata Sastro.
SPPLN juga mengancam akan melakukan mogok nasional jika RUU Ketenagalistrikan ngotot disahkan oleh anggota Dewan. "Jika disahkan, 10 hari gedung anggota Dewan akan padam," imbuh Sastro.
Sastro menuturkan, DPR sengaja mensahkan RUU ini pada bulan Ramadan. "Agar kita lengah, tapi kita tidak akan pernah lengah Saudara," tegasnya.
(nik/iy)










































