“Dia waktu itu lagi main PS,” kenang sang ibu, Rofiah (35) kepada detikcom, Minggu (6/9/2009).
Rofiah menuturkan, saat itu 2 September pukul 13.00 WIB, sebelum gempa menerjang, Riki baru saja pulang dari sekolah. Setelah itu, Riki melepas baju dan menggantinya dengan kaos. “Dia pamit mau main PS di situ (lokasi gempa),” katanya. Namun, tidak berapa lama, Riki pun pergi tanpa berpamitan ke Rofiah. “Pasti dia main PS,” ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seketika Rofiah teringat akan anaknya. “Saya mulai khawatir,” ungkapnya. Nalurinya mengatakan kalau anaknya berada di Kampung Babakan, tengah main PS. Rofiah pun berlari ke arah perkampungan itu yang berjarak hanya 1 kilometer dari rumahnya itu.
Sungguh terkejut Rofiah ketika melihat perkampungan tempat anaknya bermain PS itu sudah luluh lantas diterjang ombak batuan besar. Rofiah pun berniat mencari anaknya, namun sempat dilarang warga sekitar.
Rofiah pun hanya duduk pasrah sambil menunggu bantuan hingga keesokan harinya. “Belum ketemu sehari itu,” tuturnya.
Ditemukan Meringkuk
Sehari berlalu setelah musibah gempa itu. Bantuan tim SAR pun datang ke lokasi bencana. Pencarian di hari kedua, Kamis 3 September, Riki yang bercita-cita jadi pebulutangkis itu ditemukan. “Dia ditemukan sedang meringkuk,” katanya sambil terisak.
Riki ditemukan di daerah rawa yang terletak 100 meter dari lokasi gempa. Lumpur rawa telah menyeretnya sejauh itu hingga menewaskannya.
“Di sampingnya, ada 2 temannya. Mereka meninggal juga,” pungkasnya. (mei/iy)











































