Rini Wahyuni (12), korban gempa di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya ini, mengaku rindu belajar di sekolah. Khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia yang sangat digemarinya.
"Nilai saya selalu 9 dan 10 kalau pelajaran Bahasa Indonesia, saya sedih nggak bisa belajar lagi," ucap Rini sendu, Minggu (6/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
belajar mengajar.
Buku-buku pelajaran sekolah Rini juga sudah tidak jelas nasibnya seiring dengan runtuhnya rumah. Kini kegemarannya untuk menulis cerita pun harus terhenti.
"Saya kehilangan buku diary dan pulpen kesayangan saya yang biasa dipakai buat nulis cerita-cerita," ungkapnya.
Nasib serupa juga dialami oleh ribuan murid lain yang sekolahnya hancur akibat gempa. Di Kecamatan Cigalontang khususnya, sedikitnya ada puluhan SD serta
Madrasah yang tidak layak pakai lagi. SMP dan SMA yang rusak pun jumlahnya tidak sedikit.
Rini dan anak-anak yang masih dalam usia sekolah lainnya hanya bisa berharap agar sekolah kembali dibuka, meski hanya beratapkan langit dan tidak bermeja.
"Biar Rini bisa belajar lagi bahasa Indonesia," tutupnya lirih.
(mad/iy)











































