Menurut keterangan salah seorang warga, Rahmat, korban dikenal bernama Muhammad Nur dan bersama anaknya Faisal. Dalam kejadian ini, Faisal beruntung dapat menyelamatkan diri, sedang ayahnya Muhammad Nuh dinyatakan hilang terbawa arus Sungai Sikambing.
"Karena banjir, jadi tidak tahu mana pinggir sungai. Waktu naik sepeda motor, tercebur ke sungai sama sepeda motornya. Anaknya selamat, tapi bapaknya hilang," kata Rahmat, Sabtu (5/9/2009) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banjir terparah terjadi di kawasan padat penduduk terutama di bantaran Sungai Deli, Babura dan Sungai Denai yang melintasi Kota Medan. Meski begitu, sejumlah kawasan yang jauh dari sungai juga ikut terendam banjir, di antaranya Kecamatan Medan Amplas, Medan Denai, Medan Barat, Medan Timur, Medan Maimun, Medan Deli dan beberapa titik di Medan Kota.
Selain merendam ratusan rumah warga, banjir juga menggenangi badan jalan protokol. Di ruas Jl. Bilal Medan misalnya, ketinggian air antara 30 hingga 40 sentimeter. Akibatnya, arus kendaraan yang melintas di kawasan tersebut terjebak kemacetan.
Kondisi ini kian diperparah dengan banyaknya kendaraan yang mogok. Sementara di kawasan langganan banjir lainnya seperti Jl. Letda Sujono Medan, tinggi air di badan jalan mencapai lutut orang dewasa.
Rajali, salah seorang warga yang terpaksa mendorong sepeda motornya mengatakan, hujan deras mengguyur Kota Medan, Sabtu sore sekitar pukul 17.00 WIB. Hujan baru berhenti menjelang pukul 21.00 WIB.
"Dari sore sudah hujan. Jalan banjir. Kita mau sholat tarawih saja terganggu karena jalan macet," ungkap Rajali.
Hingga Minggu dinihari air masih belum surut total.
(rul/ape)











































