Semburan lumpur itu ditemukan di pekarangan milik Edi Rushendi. Genangan lumpur kini mencapai 2 meter dengan lebar 5 meter x 8 meter. Namun, tidak sampai menggenangi rumah warga sekitarnya karena terhalang bukit kecil.
"Setelah gempa di wilayah itu, keluar air semacam lumpur yang berwarna pekat putih. Oleh warga sekitar dipercaya terjadi karena gempa," kata Asisten I Sekda Kabupaten Tasikmalaya, JJ Suhendi.
Hal ini disampaikan Suhendi di kantornya, Pemkab Tasikmalaya, Kampung Pasir Gede,Desa Sukahening, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmaya, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2009).
Berdasarkan ceritanya penduduk, kata dia, dahulu sebelum Gunung Galunggung meletus lumpur semacam ini juga pernah muncul.
"Sekarang juga muncul dan jumlahnya terus bertambah. Tetapi, volume lumpurnya kadang besar, kadang tiba-tiba mengecil," ujarnya.
Dalam kesempatan terpisah, tim dari Pusat Nitigasi Bencana dari Fakultas Teknik Sipil ITB telah diterjunkan untuk meneliti cairan tersebut.
"Lumpur itu di Yogyakarta juga pernah terjadi. Biasanya muncul setelah gempa. Tetapi, jenis cairannya apa belum bisa dipastikan. Saya diteliti dulu," kata seorang peneliti, I Wayan Sengara.
(aan/djo)











































