'Penjual' Mao Zedong, Warna Lain di Pasar Yashow

Catatan dari China

'Penjual' Mao Zedong, Warna Lain di Pasar Yashow

- detikNews
Sabtu, 05 Sep 2009 07:41 WIB
Penjual Mao Zedong, Warna Lain di Pasar Yashow
Beijing - Tidak bisa dipungkiri liberalisasi perdagangan telah membawa kemajuan bagi perekonomian China dalam satu dekade terakhir ini.  Berbagai pusat perbelanjaan pun berdiri seiring dengan ‘invasi’ produk-produk luar yang mulai merajai pasar di ibu kota China, Beijing.

Pasar Yashow, yang terletak di pusat kota Beijing mungkin bisa dijadikan contoh betapa kerasnya persaingan perdagangan di Negeri Tirai Bambu tersebut.  Di pasar yang lebih mirip Mangga Dua ini, pembeli harus berhati-hati dengan keaslian barang.

“Jangankan barang, uang saja bisa palsu jika menukar di money changer dekat situ (Yashow),” kata seorang pemandu mewanti-wanti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adalah Jiang Zong Wei mungkin seorang yang memberi warna lain di tengah pragmatisme perdagangan di Yashow. Wei memiliki sebuah kios kecil di lantai 4 Pasar Yashow yang khusus menjual koleksi-koleksi militer yang  berhubungan dengan pemimpin China, Mao Zedong.

Di kios sederhananya , Wei menjual semua hal yang berbau Mao. Mulai dari topi, jaket, sepatu, pin dan bahkan buku-buku lawas karya asli presiden Republik Rakyat China pertama ini.

“Ini  topi Mao saat musim dingin dan ini topi Mao saat musim panas,” ujarnya kepada detikcom, Selasa (1/9/2009), sambil menunjukan topi berbahan bludru dan berbahan katun, lengkap dengan bintang merah di bagian depannya.

Wei adalah satu-satunya pedagang yang menjual koleksi Mao, sedangkan pedagang  lain lebih memilih menjual Dolce Gabana, Pierre Cardin, Boss, Nike, Adidas abal-abal. Meski Revolusi Kebudayaan 1958 yang dilakukan Mao gagal dan memakan korban jutaan rakyat, bagi Wei, Mao tetaplah sosok yang layak dibanggakan.

“Hanya ada satu presiden di China seperti Mao,” ujarnya.

Yang dimaksud Wei, tentu adalah presiden yang membawa China bebas dan merdeka dari penjajahan bangsa asing.  Jasa Mao dalam memerdekakan rakyat China seolah telah mengubur sejarah hitam  yang pernah ia lakukan.  Cap 10 orang terkejam di dunia yang pernah dilansir majalah Publizer pada 2008 pun bisa jadi hanya masuk dalam ranjang sampah.

Survei  yang dilakukan majalah Asia Week terhadap 6000 rakyat China pada tahun 1994, bahkan  mencatat 40 persen  masyarakat China tetap memilih Mao sebagai figur politisi favorit mereka, 26 persen memilih Zhou Enlai, dan kurang dari 10 persen memilih Deng Xiaoping (AsiaWeek, 1996: 29-39).

Sesuatu yang terkesan ironis bagi masyarakat dunia, namun tidak bagi Wei dan mayoritas masyarakat China.  Mao tetap dicinta, meski liberalisasi Pasar Yashow juga pelan-pelan menguburkan ajarannya tentang sosialisme, di mana sebuah persaingan bebas adalah haram. (lrn/lrn)



Berita Terkait