Pesan itu ditampilkan dalam acara 'perjalanan pemberantasan korupsi era
2003-2009'. Dipajang dalam sebuah figura besar, pesan-pesan itu dipajang di lobby KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (3/9/2009).
Mulai dari Ketua KPK jilid 1, Taufikkurahman Ruki hingga wakil ketua KPK
sekarang, M Jasin, semuanya menulis di 'dinding' KPK.
Bagi mantan pimpinan KPK, tema yang ditulis lebih sebagai bentuk dukungan
terhadap lembaga ini. Tengoklah apa yang ditulis Amien Sunaryadi.
"KPK yang Hebat: Ide Pembentukannya muncul di masa Presiden Habibie, dibentuk di masa Presiden Megawati sehingga tidaklah mungkin dilumpuhkannya di masa Presiden SBY"
Atau lihatlah dukungan yang disampaikan oleh Erry Riyana Hardjapamekas.
"Prahara ini tiba karena ulah kita, bukan lembaga. Nista ini ajaib dibolak-balik dengan argumentasi apapun tetap aib. Kejujuran, keterbukaan, dan kebersamaan ternyata tidak cukup. Perlu perang besar lawan kemunafikan. KPK pasti mampu melanjutkan misi dengan lebih cepat dan lebih baik."
Bagaimana dengan pimpinan KPK yang sekarang. Mereka menulis untuk lebih memotivasi agar pemberantasan korupsi terus berjalan. Hal ini terangkum dalam tulisan Bibit Samad Riyanto.
"Rapatkan barisan, jangan lengah dan jangan mau diadu domba oleh para koruptor yang berada di sekeliling kita. Maju terus pantang mundur"
Yang menarik, tidak ada foto maupun komentar yang ditulis oleh Antasari. Ketua KPK nonaktif itu memang sedang dirundung masalah karena terjerat kasus
pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.
Berkas Antasari sudah dilimpahkan ke pengadilan. Tidak lama lagi berarti ia akan menjadi terdakwa yang secara otomatis akan diberhentikan oleh Presiden.
Apakah ini KPK lupa memintai komentar Antasari atau justru disengaja? "Waktu itu kan gempa, jadi fotonya jatuh haha..." canda penasihat KPK Abdulah Hehamahua.
(mok/ape)











































