Himbauan tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Malaysia Abdullah Abbas di Kuala Lumpur kepada detikcom, 2/9/2009.
Abbas mencontohkan berita bohong yang digunakan untuk provokasi rakyat Indonesia, misalnya, berita Malaysia yang mengklaim Tari Pendet dari Bali.
"Tidak betul Malaysia mengklaim Tari Pendet dalam film dokumenter Enigmatic Malaysia. Itu hanya kesalahan Discovery Channel yang meletakkan foto penari pendet dalam film promosi Enigmatic Malaysia," katanya.
Dijelaskan bahwa dalam enam film dokumenter itu tidak ada cerita mengenai tari Pendet Bali. "Bagaimana bisa pers Indonesia menuduh Malaysia mengklaim Tari Pendet sebagai kebudayaannya," tanya Abbas.
Menurut Abbas, dampak provokasi pers Indonesia itu telah menanam kebencian terhadap Malaysia. Berbagai upaya mahasiswa Indonesia untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya langsung dicap sebagai pengkhianat.
Hal senada dikemukakan ketua I PPI, Rasul, mengenai provokasi pers Indonesia. "Sebagai contoh yang baru-baru ini diributkan oleh pers Indonesia mengenai polisi-polisi Malaysia memukuli TKI. Setelah ditelurusi ternyata tidak benar," katanya.
"Setelah ramai di milis PPI dan dicek mahasiswa itu ternyata film yang diambil dari Youtube. Itu warga Malaysia etnis China bukan TKI," jelas Rasul, mahasiswa Universitas Tun Abdurrahman (Unitar).
Ditambahkan bahwa dua bulan lalu pers Indonesia juga meributkan ada film yang menggambarkan polisi memukuli TKI di Sarawak. Setelah dicek ke KJRI Kuching, Sarawak, ternyata itu film lama. "Dan yang dipukuli itu juga ternyata warga Malaysia," tandas Rasul.
PPI Malaysia melalui ketua Abbas memohon agar pers Indonesia mengedepankan profesionalitas dan kode etik, tidak memprovokasi dan menanamkan kebencian terhadap Malaysia dengan berita-berita bohong.
"Perlu dipikirkan ada sekitar 15.000 mahasiswa Indonesia studi di Malaysia. Sekitar 1,2 juta TKI mencari nafkah di Malaysia dan sekitar 5.000 ekspatriat Indonesia cari makan di Malaysia. Belum lagi ratusan ribu warga Indonesia yang menjadi permanent residence di Malaysia," demikian Abbas.
(es/es)











































