"Sekarang kondisinya anggaran untuk Kebudayaan dan Pariwisata Rp 1 triliun per tahun dan itu hanya 0.05 persen dari APBN. Kami mengharapkan ditingkatkan 3 sampai 4 persen dari APBN," ujar Juru Bicara Budayawan Radhar Panca Dahana.
Hal ini disampaikan Radhar saat ditemui Ketua MPR Hidayat Nurwahid di ruang rapat pimpinan MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2009).
Radhar mengungkapkan budaya Indonesia mengalami kemerosotan. Radhar mengaku saat ini dunianya sedang berduka lantaran kurangnya dukungan Pemerintah.
"Kami merasakan berduka bukan saja atas hilangnya seorang Rendra tapi kedukaan karena negeri ini mengalami kemerosotan dalam kebudayaan yang sulit melahirkan rendra baru karena kekurangan dana," keluh Radhar.
Selain itu, Radhar juga berharap ada regulasi yang jelas terhadap penyaluran anggaran pengembangan kebudayaan Indonesia. Bagaimana kesenian itu harus dibiayai, bagaimana dibuat regulasinya, dibuat infrastruktur arsitektur industri kreatif yang sangat kooperatif," papar Radhar.
Hal ini penting mengingat selama ini Radhar mengaku ada unsur lobi dalam pengucuran dana jatah budayawan dan seniman. Terlebih, banyaknya budaya asing yang mulai menyusup ke budaya Indonesia.
"Selalu diganggu kekuatan kebudayaan dari luar, pergumulan yang mencoba untuk melakukan eksploitasi dari kultur yang selama ini kita bangun," tegasnya.
Ketua MPR Hidayat Nurwahid menyambut dan mendukung upaya budayawan dan seniman yang hadir. Hidayat meminta budayawan dan seniman menyampaikan masukannya kepada Komisi Budaya DPR.
"Supaya disampaikan kepada Komisi Budaya DPR untuk rasionalisasi dan pelaksanaannya," kata Hidayat.
(van/aan)











































