"Jauh sebelum (pengharaman) itu kita sudah mengusahakan agar masjid dan seluruh arealnya bersih dari pengemis dan gelandangan," kata Ketua Badan Pelaksana Masjid Istiqlal, H Mubarok, kepada detikcom di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2009).
Mubarok menjelaskan, penerapan kebijakan melarang pengemis dan gelandangan beroperasi di areal masjid ini dibantu oleh Satpol PP Pemrov DKI Jakarta. Menurutnya, banyaknya pengemis dan gelandangan menyebabkan masjid terkesan kumuh dan banyak fasilitas sering disalahgunakan.
"Kita kan ingin masjid yang penuh dengan sejarah ini selalu terawat. Selain mereka (pengemis) itu membuat lingkungan kotor dan terkesan kumuh, banyak juga di antara mereka yang jorok, menggunakan fasilitas masjid seperti air," ucapnya.
Walaupun sudah dibantu oleh petugas Satpol PP, Mubarok tidak mengakui jika pengemis dan gelandangan makin banyak berdatangan menjelang puasa. Menurutnya, hal itu tidak bisa dihindari karena Ibu Kota Jakarta adalah tempat paling mudah untuk mencari uang.
"Selama gulanya masih banyak di sini, ya semutnya pasti banyak yang kesini," ujarnya memberi perumpamaan.
Pantauan detikcom pukul 15.00 WIB, di sekitar lokasi masjid memang hampir tidak terlihat pengemis maupun gelandangan. Di setiap pintu masuk masjid dijaga oleh 1-2 petugas keamanan. Untuk bulan ramadan kali ini, Istiqlal hanya membuka pintu utama di utara untuk pengendara. Sedangkan pintu-pintu lainnya dibuka hanya untuk pejalan kaki.
(sho/ndr)











































