Seperti diberitakan AFP, Rabu (26/8/2009), satelit itu telah mencapai ketinggian 387 km (242 mil). "Setelah mencapai ketinggian sekian, satelit itu jatuh ke bumi dan diperkirakan hancur ketika masuk kembali ke atmosfer," kata Deputi Menteri Ilmu Pengetahuan Korsel, Kim Jung-Hyun.
Korsel telah menginvestasikan lebih dari 500 miliar won (USD 400 juta) untuk satelit dan roket berukuran 33 meter tersebut. Satelit itu juga merupakan kebanggaan nasional Korsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski gagal, namun Korsel tak menyerah dengan komitmennya untuk memajukan kemampuan teknologi luar angkasa. Negara ini sebelumnya telah meluncurkan 10 satelit dengan roket dari negara lain.
Pada November 2007, Korsel mengumumkan rencananya meluncurkan satelit yang mengorbit di bulan pada 2020. Negara ini mengungkapkan proyek bulannya sebulah setelah China pertama kali meluncurkan satelitnya ke bulan dan 2 bulan setelah Jepang melakukan hal yang sama.
"Kita bisa mengatakan ini separoh sukses meski satelit tersebut gagal masuk orbit. Kita harus mewujudkan mimpi kita menjadi negara maju dalam teknologi luar angkasa, bahkan jika hal itu mengharuskan kita mencoba 8 kali setelah 7 kali gagal atau 9 kali setelah 8 kali gagal," kata Presiden Korsel Lee Myung-Bak. (sho/sho)











































