Pria yang akrab disapa Abu Jibril itu menegaskan, anaknya tidak mungkin menjadi seorang teroris.
"Saya langsung panggil dia untuk pulang ke rumah tadi siang jam 14.00 WIB, sehabisย ada tayangan televisi," ceritanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abu menyesalkan mengapa polisi langsung menetapkan anaknya sebagai tersangka. Padahal, belum dibuktikan. "Anak saya sehari-hari bekerja jadi wartawan di media arahman.com," kata Abu.
Abu kemudian menceritakan, sebelum kembali ke Indonesia, dirinya dan keluarga menetap di Malaysia selama 20 tahun. Data kelahiran yang dilansir polisi pun salah.
"Dia lahir 3 Desember 1984. Kami pernah tinggal di Malaysia 20 tahun," kata Abu.
Nama Mohamad Jibril mencuat saat polisi menyebutnya sebagai tersangka teroris baru. Polisi menyebut pria itu bertempat tinggal terakhir di Jalan M Saidi RT 10/ RW 01 Pesanggrahan, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.
Jibril diduga terlibat soal pendanaan dari luar negeri untuk pengeboman JW Marriott. Jibril itu memiliki dua identitas yakni kelahiran Banjarmasin, 3 Desember 1979 dan Lombok Timur, 28 Mei 1989.
(ken/rdf)











































