"Ketika bangunan itu terbangun nantinya, kami tidak memiliki apa-apa yang membiarkan orang menginjak-injak memori dari mereka yang kehilangan nyawanya di Bali," ujar Rudd, seperti dilansir The Sydney Morning Herald, Selasa (25/8/2009).
Pernyataan Rudd mengomentari kabar yang beredar bahwa pemilik hak sewa tanah tersebut, Kadek Wiranatha, telah meminta izin untuk membangun klub malam dan restoran di bekas Sari Club. Wiranatha juga telah menyatakan idenya kepada pihak Australia yang berada di belakang pembangunan Taman Perdamaian Bali, taman yang dibangun untuk mengenang korban bom Bali. Wiranatha menolak permintaan Australia untuk membangun taman peringatan di lokasi pengeboman tersebut.
Sebelumnya, Yayasan Taman Perdamaian Bali bermaksud menyewa atau membeli lokasi eks Sari Club dan menyerahkannya kepada warga Bali untuk mengelolanya. Namun ide ini terganjal sehingga lahan ituย hanya digunakan sebagai tempat parkir kendaraan bermotor.
Salah seorang korban yang selamat dari penyerangan 2002 silam, Phil Britten, menyatakan taman yang direncanakan akan dibangun akan menjadi sumber ketenangan untuk kontemplasi di Kuta. "Ini akan menjadi tempat penyembuhan bagi korban yang selamat dan tempat untuk pihak lain yang ingin memberikan penghormatan bagi mereka yang kehilangan nyawanya," ujarnya.
Sebelum dibom oleh Amrozi cs, Sari Club adalah diskotek yang terkenal hingga mancanegara. Dianggap belum lengkap ke Kuta bila belum mampir ke Sari Club. Klub malam ini hanya diperuntukkan untuk turis asing.
(amd/nrl)










































