"Teknik yang dipakai para teroris adalah brainwashing. Bukan dengan ceramah-ceramah umum. Karena itu, mengawasi dakwah adalah pilihan yang cenderung mubazir. Lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya," kata Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum lewat pesan singkat kepada detikcom, Minggu (23/8/2009).
Daripada mengawasi dakwah, kata Anas, polisi seharusnya melengkapi kerjanya dengan pendekatan sosiokultural. Bekerja sama dengan ormas-ormas Islam, para ulama, dan para dai adalah pilihan yang bijak dan tepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan pendekatan sosiokultural tersebut, kata Anas, ruang gerak para teroris makin sempit. Sebab, orang-orang atau komunitas yang 'membiarkan' bergeser posisi pada barisan 'antiterorisme'.
Lebih lanjut Anas menjelaskan, memerangi terorisme adalah agenda nasional, bahkan agenda global.
"Tidak mungkin tuntas kalau hanya dibebankan kepada Polri. TNI dan masyarakat luas, termasuk ormas-ormas Islam perlu terlibat dengan porsinya masing-masing," pungkasnya.
(lrn/iy)











































