Tablig Akbar yang dihadiri ribuan umat muslim itu dimulai sekitar pukul 14.00 WIB, Jumat (21/8/2009). Para peserta tampak memadati pelataran antara masjid Baitussalam dan rumah Djahri, Dusun Beji, Desa Kedu, Kelurahan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah.
Sejumlah aparat kepolisian berseragam tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi tablig akbar. Sebuah kendaraan taktis (rantis) juga disiagakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah Djahri sendiri juga masih dijaga beberapa orang polisi. Garis polisi dan pagar seng, masih mengitari rumah yang porak-poranda akibat penggerebekan oleh Densus 88 Mabes Polri pada 7 Agustus lalu.
Muhammadiyah Tak akan Lindungi Teroris
Dalam pidatonya Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengatakan terorisme bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu, sambung Din, Muhammadiyah tidak bersembunyi jika ada anggotanya yang terlibat terorisme.
"Jika salah satu anggota kita memang salah, akan kita katakan salah," tegas Din.
Namun demikian, sambung Din, Muhammadiyah tetap akan melakukan pendampingan hukum. "Jika Pak Djahri tidak dibebaskan, kita akan memberikan bantuan hukum. Tapi Alhamdulillah, beliau sudah dibebaskan," ujar Din.
Din juga berharap, apa yang dialami Djahri tidak terulang kembali di masa datang. Menurut Din, warga Temanggung adalah masyarakat yang cinta damai.
"Dilihat dari masjidnya, Baitussalam artinya rumah kedamaian. Saya berharap warga Temanggung cinta damai. Setiap pengrusakan dan teroris bertentangan dengan agama Islam," ungkap Din.
Dalam kesempatan itu Djahri tampak mengenakan baju batik warna merah. Sedangkan Din mengenakan baju koko berwarna biru. Keduanya duduk di berdampingan di depan panggung berukuran 5 X 4 meter berlatar belakang tulisan "Tablig Akbar Menyambut Ramadan 1430 H/2009 M Menuju Indonesia Damai".
(djo/asy)










































