SBY Telah Siapkan Penerus Kepemimpinannya

SBY Telah Siapkan Penerus Kepemimpinannya

- detikNews
Jumat, 21 Agu 2009 13:12 WIB
 SBY Telah Siapkan Penerus Kepemimpinannya
Jakarta - Salah satu fokus SBY di periode terakhir masa pemerintahannya adalah untuk menyiapkan generasi penerus kepemimpinan bangsa. SBY menjanjikan para generasi penerus kepemimpinan dirinya harus siap terjun lima tahun mendatang.

Menurut seorang petinggi parpol anggota koalisi pendukung SBY-Boediono, kandidat generasi penerus yang akan disiapkan untuk lima tahun ke depan adalah tokoh muda di sekitar SBY. Kiprah mereka akan makin SBY tonjolkan di tahun ke dua pemerintahannya kelak.

"Paling tidak ada lima orang yang disiapkan SBY, ada yang dari dalam PD dan ada yang dari luar. Jadi bila yang jatuh, lainnya akan langsung menggantikan," ujar pria pria yang minta namanya tidak disebutkan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengingat jalur kedatangannya dari dalam dan luar PD, maka kawah candradimuka pun ada dua jalur. Untuk kalangan dari PD, maka suksesi kepemimpinan parpol pengusung SBY itu yang menjadi patokannya.

Sedangkan untuk dari luar PD, maka posisi dalam pemerintahan 2009-2014 yang jadi ajangnya. Sejumlah pos penting dan yang akan SBY buat makin penting, akan diisi oleh kalangan muda yang dianggap layak jadi kandidat penerus kepemimpinan bangsa.

Sejumlah orang muda yang punya andil besar dalam kesuksesan SBY. Ada yang sudah tak asing lagi karena posisinya yang membuatnya sering tampil di media massa, tapi ada juga yang sepak terjangnya nyaris tidak diketahui publik.

Mereka antara lain adalah Sri Mulyani, Andi Mallarangeng, Dino Patti Djalal, Deny Indrayana, Andi Arief, Aam Sapuletet, Hery Sebayang, Anas Urbaningrum, Chatib Basri, Darwin Saleh, Bara Hasibuan, dan Bima Arya. Ada yang sejak 2004 bergabung dengan tim SBY dan ada yang menyusul belakangan.

Anas Urbaningrum, namanya mulai moncer sejak menjabat Ketua Umum PB HMI lalu anggota KPU. Alumni FISIP Universitas Airlangga yang merapat ke SBY dan duduk di DPP PD pada 2005 ini sangat piawai mengolah berbagai isu politik dalam bahasa amat santun serta pembawaannya yang kalem bahkan pada saat menyerang lawan sekalipun.

"Jasa terbesar Anas adalah mengubah wajah PD. Bila sebelumnya tua, emosional dan kolot, menjadi segar, responsif tapi santun dan strategis," ujar Ketua Bappilu PD, Yahya Sacawiria, dalam sebuah perbincangan di Cikeas.

Andi Mallarangeng, sempat mendirikan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PDK) bersama Prof. DR.Ryaas Rasyid pada tahun 2002, namun keluar dua tahun kemudian. Dia lalu merapat ke SBY jelang hari-H Pilpres 2004 dan kemudian ditugaskan sebagai Juru Bicara Kepresidenan
Kepresidenan RI.

Tugasnya menuntut doktor ilmu politik ini harus sigap menterjemahkan kebijakan presiden kepada publik. Sebagai jubir, dia juga yang bertugas menangkis segala serangan dan sesekali melancarkan serangan kepada pihak yang mengecam kebijakan pemerintahan SBY.

Di DPP PD, pria asal Bugis ini punya tugas vital sebagai Ketua Bidang SDM. Namanya tidak pernah absen dalam berbagai versi isu kabinet 2009-2014 dan bursa bakal calon Ketum DPP PD 2010.

Dino Patti Djalal, sebelum menjadi juru bicara presiden dia menjabat sebagai Direktur Urusan Amerika Utara dan Amerika Tengah di Deplu RI. Perjalanan karier doktor hubungan internasional lukusan London School for Economic and Political Science, Inggris, ini terhitung sering diterpa isu miring tapi sepak terjangnya di komunitas internasional terbukti handal.

Pada sebuah kesempatan, pada detikcom Dino mengaku tidak tertarik terjum dalam bidang politik. Keinginan terkuatnya adalah melanjutkan kariernya dalam birokrasi sebagai duta besar RI.

"Saya hanya bersedia jadi dubes di tempat yang punya peran strategis bagi Indonesia. Saya bukan untuk di-dubeskan," tegasnya.

Rasa hormat SBY terhadap Sri Mulyani tidak terbantahkan dan terkira besarnya. Sepak terjang, independensi dan ketegasan -bahkan terhadap SBY-JK atasannya dalam kabinet sekalipun, mengantar ibu dua ABG ini sebagai menkeu terbaik 2008 versi majalah EuroMoney.

Berkat tangan dinginnya sebagai pelaksana tugas menko perekonomian, dunia menilai Indonesa lolos dari dampak buruk krisis ekonomi global. Kepemimpinannya di Depkeu RI berhasil mendongkrak pendapatan negara dari sektor pajak dan membersihkan jajaran Bea dan Cukai serta Direktorat Pajak dari oknum-oknum penggelap uang negara.

Andi Arief, mantan aktivis mahasiswa dan korban penculikan Tim Mawar. Bersama Heri Sebayang dan Aam Sapulete, aktif turun gunung untuk memenangkan SBY melalui jaringan aktivis dan organisasi taktis yang bertajuk Jaringan Nusantara.

Andi Arief bertugas di IT Campaign, Aam Sapulete penggalangan massa dan Heri Sebayang melakukan pembinaan akar rumput secara luas dan massif. Tetapi mereka tidak tergabung dalam tim resmi atau jajaran PD, baik pada Pemilu 2004 dan 2009.

Tentu SBY tak lupa memberi'penghargaan kepada trio ini. Andi Arief diangkat menjadi Komisaris PT Pos, Heri Sebayang dan Aam Sapulete masing-masing sebagai Komisaris PTP Sumut dan PTP Lampung.

Darwin Saleh Zahedi, di DPP PD dan tim kampanye SBY-Boediono jabatannya adalah ketua bidang ekonomi. Secara rutin dia menggelontorkan pemikiran ekonomi dari SBY-Boediono. Isu menyebut dia kandidat untuk posisis Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Jauh sebelumnya di tim ekonomi SBY sudah ada sosok Chatib Basri. Ekonom muda lulusan UI ini bergabung di tim pemikir ekonomi SBY sejak Pemilu 2004 dan pada 2009 lalu memainkan peran yang sama dengan tugas mendampingi cawapres Boediono.

Bima Arya Sugiarto, pengamat politik dari Universitas Paramadina ini bergabung dalam tim SBY dari jalur profesional. Yakni melalui lembaga Charta Politika sebagai konsultan kampanye bagi Edie Baskoro Yudhoyono dalam Pemilu 2009.

Selanjutnya dia bergabung dalam tim sukses SBY-Boediono dengan posisi wakil ketua dewan pakar. Dengan tata bahasa yang strategis dan pemahamannya terhadap ilmu komunikasi, Bima lancar dalam menyampaikan analisa dan membalik serangan kompetitor dari sudut pandang berbeda.

Denny Indrayana juga baru belakangan saja bergabung dalam tim SBY. Kedekatannya ke SBY sudah sejak 2004, tapi baru setahun lalu dia diangkat sebagai staff khusus presiden bidang hukum dan lalu ditarik dalam dewan pakar tim SBY-Boediono.

Kompetensinya dalam bidang hukum tata negara yang menjadikannya ketiban tugas menangkis isu politisasi hukum dari pihak kompetitor. Tidak jarang jawabannya yang sangat teknis terkait proses sengketa hasil pilpres di MK memaksa lawan bicaranya dari pihak kompetitor berputar-putar mencari celah politisasi isu.

Atas berbagai jasa masing-masing, tidak tertutup kemungkinan SBY akan memberikan ganjaran kepada para tokoh muda ini. Yakni menyiapkan mereka sebagai bakal calon penerus kepemimpinan bangsa lima tahun ke depan baik lewat jalur kabinet, parpol atau profesional lainnya.

Namun sekali lagi, semua ini berpulang pada SBY dan kesediaannya dari tokoh muda yang bersangkutan. Kita tunggu saja tanggal mainnya. (lh/yid)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads