SBY Diminta Hati-hati dengan Manuver Taufiq Kiemas

Ketua MPR Diincar PDIP

SBY Diminta Hati-hati dengan Manuver Taufiq Kiemas

- detikNews
Kamis, 20 Agu 2009 10:46 WIB
 SBY Diminta Hati-hati dengan Manuver Taufiq Kiemas
Jakarta - Keinginan SBY merangkul semua pihak dalam pemerintahan keduanya dinilai akan mengancam stabilitas pemerintahannya. Sebab, dengan mengajak PDIP yang mendapat konsesi kursi kabinet dan jabatan ketua MPR, SBY berarti memberi angin kepada lawannya untuk tetap eksis.

"Taufiq dan Megawati tidak berada dalam satu kubu. Bagi orang awam hal ini bisa saja dianggap serius dan sungguhan konfliknya. Namun bagi yang punya pengalaman dan mengenal kiprah berpolitik pasangan suami istri ini, pasti hanya tersenyum. Karena pasti tahu bahwa pada dasarnya mereka itu kompak full!" kata mantan orang dekat Mega, Eros Djarot, kepada detikcom, Kamis (20/8/2009).

Menurut politisi yang keluar dari PDIP karena kecewa dengan Mega ini, pimpinan Partai Demokrat (PD) saat ini sedang masuk dalam jebakan Taufiq dan Mega. Karena sejatinya politik melunaknya suami-istri ini semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan yang masih bisa direngkuh setelah kalah pilpres.
  
"Yang kasihan para pimpinan Partai Demokrat. Mereka sepertinya masuk ke dalam ‘jebakan Batman’. Dikiranya manuver TK merebut kursi Pimpinan MPR bukan sebuah kesepakatan keluarga, padahal meraup kursi kekuasaan setelah gagal di wilayah eksekutif, merupakan cara satu-satunya yang tersisa untuk mempertahankan kekuasaan dan kekuatan mereka untuk mengendalikan PDIP," papar Eros.

"Tanpa kekuasaan formal di tangan keluarga ini, dipastikan posisi dan kewibawaan politik mereka akan melemah dan ditinggalkan pengikut. Pasca gagal capres kedua kali ini, gejala itu sudah mulai nampak," imbuhnya.

Apakah tawaran PD pada PDIP untuk mendapatkan posisi kursi MPR jika mendukung SBY sebagai bentuk politik dagang sapi? "Kalau SBY berniat meninggalkan sebuah legacy yang prima pada 5 tahun mendatang, menempatkan seseorang di kursi pucuk pimpinan MPR rasanya tidak perlu lagi didasari bayangan ketakutan tidak mendapat dukungan PDIP di parlemen," jawabnya.

"Jadi atau tidaknya calon PDIP menduduki kursi Pimpinan MPR, toh mereka akan melakukan perlawanan juga di DPR. Dan bila itu terjadi, wakil mereka yang duduk di kursi pimpinan MPR sepertinya bakal dengan mudah dan enteng-enteng saja mengatakan, wah, anak-anak ini memang keterlaluan. Padahal sudah saya peringatkan. Hanya itu dan tanpa beban," papar Eros.

Belajar dari pengalaman yang ada itulah Eros menyarankan dalam memilih calon pimpinan MPR sebaiknya dilakukan melalui pendekatan kualitas. Setidaknya kandidat Ketua MPR harus individu yang tidak rajin membolos, secara intelektualitas terjamin dan pengetahuannya memadai serta menghayati dan pengamalan Pancasila dan UUD’45 secara konsisten.

"Dan, yang paling penting, sang calon bukan individu yang miskin nilai dan penuh dengan kepentingan bisnis maupun kepentingan politik golongan. Nah, kalau yang didukung tidak memenuhi kriteria ini, namun tetap dipaksakan, pertanyannya menjadi sangat gamblang, mau jadi apa dan dibawa ke mana bangsa ini," tanya Eros.

"Kalau Partai Demokrat masih konsisten dengan semboyan ’Bersama Kita Bisa’, maka yang menjadi masalah, ’Bersama’ siapa sebenarnya yang memang benar-benar bisa," pungkasnya.

(yid/nrl)


Berita Terkait